Artikel Populer
24/10/2024
Kolaborasi Antar Generasi di Tempat Kerja
oleh: Alice Whita Savira, M.Psi.
Kenapa penting mempelajari kolaborasi antar generasi di tempat kerja?
Bisa kita lihat di media-media sosial. Ada keluhan bahkan mungkin sindiran, mengenai generasi tertentu di tempat kerja.
- Generasi yang lebih muda, mengeluhkan generasi di atasnya, lambat dalam bekerja tidak segera memberi feedback, tidak terlalu memanfaatkan teknologi, dan selalu merasa lebih mantap dengan komunikasi tatap muka.
- Generasi yang lebih tua mengatakan yang lebih muda asal cepat, pemrosesan bahan untuk membuat sebuah karya tidak mendalam, tanya melulu, kurang usaha dan berproses secara mandiri.
- Generasi yang lebih muda, misalnya generasi Z dianggap sangat lugas menyampaikan keberatannya dan dianggap tidak memiliki etos kerja yang baik .
Pertama-tama apa yang perlu disadari
apa itu generasi, lalu
menyebabkan konsekuensi apa di tempat kerja, dan
seperti apa rekomendasi untuk dapat bekerja sama dengan baik.
Apa itu generasi?
Sekelompok individu yang lahir dalam periode tahun lahir yang sama, dalam sejarah situasi ekonomi, konteks, dan proses sosial budaya yang sama, berbagi kejadian yang sama, dan oleh karenanya mengembangkan karakteristik pola pikir, nilai, dan pengalaman yang sama.
- Generasi X adalah generasi yang lahir di tahun 1965-1981 (45-59 tahun)
- Generasi Y adalah generasi yang lahir di tahun 1980-1999 (25-44 tahun)
- Generasi Z adalah generasi yang lahir di tahun 2000-2012 (12-24 tahun), karyawan min 18 tahun
Konsekuensi dari periode tahun kelahiran dengan perilaku kerja
Generasi X relatif diliputi kesulitan dikarenakan biaya hidup yang cenderung meningkat dan upah yang belum memadai sebagai warisan dari generasi sebelumnya. Generasi X cenderung segera ingin mandiri, bekerja keras , dan mereka cenderung sulit untuk mempercayai orang lain.
Generasi Y dianggap sebagai angkatan kerja yang paling terdidik. Dianggap juga sebagai generasi yang percaya diri, mahir teknologi, praktis, serta berorientasi pada prestasi. Hal ini dikarenakan adanya peran orang tua untuk memfasilitasi pengembangan kompetensi seperti kursus, kegiatan volunteer untuk bekal masuk perguruan tinggi dan kehidupan pekerjaan. Generasi ini mengharapkan pekerjaan yang memuaskan karena kualifikasi dimiliki dan rentan untuk beralih ke pekerjaan lain.
Generasi Z cenderung identik dengan gadget, telepon pintar dan segala aplikasinya, komputer, dan sosial media. Pendidikan hanya dipandang sebagai syarat untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka juga berperilaku lebih praktis, individualis, dan kurang memiliki wawasan komunitas. Cenderung lebih terbiasa dengan keragaman.
Potensi konflik
- Cara berkomunikasi dan pemanfaatan teknologi. Preferensi media komunikasi yang berbeda antar generasi misalnya komunikasi tatap muka pada generasi yang lebih tua dan penggunaan teknologi pada generasi yang lebih muda. Generasi yang lebih tua merasa bahwa generasi yang lebih muda kurang terampil berkomunikasi, tepatnya kurang mampu berinteraksi secara bijaksana dan kurang mampu mengirimkan dan menginterpretasi pesan secara efektif. Generasi yang lebih muda merasa, generasi yang lebih tua enggan untuk belajar teknologi.
- Kebutuhan akan umpan balik. Generasi X ingin umpan balik namun tidak bersifat regular, gen Y ingin umpan balik regular, gen Z ingin umpan balik selalu tersedia.
- Kerja keras pada generasi yang lebih tua dan kerja cerdas pada generasi yang lebih muda.
- Tanggapan akan perubahan. Generasi yang lebih tua merasa bahwa mematuhi struktur, prosedur, dan aturan adalah hal yang wajib, mereka mengeluhkan bahwa yang lebih muda sering kali tidak taat pada hal-hal tersebut dan segera ingin mengubah keadaan. Bagi yang lebih muda generasi yang lebih tua dianggap resistensi terhadap perubahan.
- Etos kerja. Gen Z memahami perlu menunjukkan kinerja yang baik namun enggan untuk mengorbankan hidup untuk tempat kerja. Generasi X misalnya lebih ingin agar generasi yang lebih muda menunjukkan identitasnya sebagai pekerja. Sementara itu generasi Z lebih berorientasi pada identitasnya pribadi yang memiliki peran variasi, tidak hanya di tempat kerja.
Rekomendasinya apa?
Beberapa upaya agar berbagai macam generasi dapat berkolaborasi dengan baik di tempat kerja:
-
Memiliki pengetahuan mengenai keberagaman di tempat kerja (bahwa persepsi terhadap ageisme akan berdampak negatif di dunia kerja), manajemen konflik, dan bagaimana berkolaborasi dalam keberagaman. Hal yang perlu ditekankan adalah masing-masing generasi memiliki kekuatannya sendiri2 untuk tim kerja. Maka, perlu berfokus ke hal tesebut. Perlu mengingat juga mengenai visi, misi budaya, agar setiap individu mengarahkan tindakannya ke sana.
-
Mengupayakan cara berkomunikasi yang pantas. Hal ini diperlukan untuk mempersempit peluang kesalahpahaman antar generasi . Tiap individu bisa memilih secara sadar gaya komunikasinya. Individu dapat menunjukkan sikap hormat ketika berkomunikasi, menggunakan saluran komunikasi yang disukai generasi lain, dan penggunaan bahasa yang sesuai.
-
Setiap individu tidak perlu terbelenggu dalam stereotipe. Yang justru penting adalah menunjukkan bahwa dirinya memiliki rekam jejak kinerja yang baik, rencana kerja yang baik, dan kinerja saat ini yang baik. Informasi mengenai kinerja yang baik ini penting untuk membangun kepercayaan di antara generasi yang mengarah pada penyelesaian konflik.
-
Saling belajar. Mentoring dan reverse mentoring. Pemilihan mentor berbasis kompetensi. Tidak harus yang senior kepada junior. Yang semula menjadi mentor bisa menjadi mentee.
Ilustrasi sampul: MBN Consulting
Kembali
Arsip