Artikel Populer
19/01/2024
Keterampilan Sosial pada Anak
oleh: Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si

Mengapa sih masih butuh membahas keterampilan sosial atau keterampilan sosial pada anak?
Bukankah itu akan berkembang dengan sendirinya seiring anak bertambah usia?
Nanti anak akan belajar sendiri kok kalau ada teman, tidak perlu khawatir!
Betul bahwa keterampilan sosial akan ikut berkembang seiring bertambahnya usia dan perjumpaan dengan orang lain, namun untuk bisa berkembang dengan baik maka anak-anak membutuhkan pendampingan dan pelatihan karena keterampilan sosial dapat dipelajari atau diajarkan.
Keterampilan sosial adalah kapasitas individu untuk berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya (White dalam Rubin & Rose-Krasnor, 1992). Keterampilan sosial mengacu pada kualitas yang dimiliki oleh individu dalam melakukan interaksi sosial (Gresham, 1986). Rose-Krasnor (1997) mendefinisikan sebagai sejumlah kemampuan yang ditunjukkan individu untuk mencapai tujuan pribadi dalam berbagai interaksi sosial dan mempertahankan hubungan positif dengan orang lain. Contoh keterampilan sosial antara lain: menolak permintaan orang, tukar pendapat/pengalaman, memberi saran, memberi pujian, menyampaikan keberatan, menyelesaikan konflik, perspective taking, kemampuan mengelola diri (mengatasi rendah diri, kecemasan, kemarahan) serta kemampuan meminta informasi atau menyampaikan informasi.
Aspek keterampilan sosial:
- Komunikasi: Ananda bisa membuat kontak mata & tahu bagaimana bergantian berbicara
- Cooperation: Ananda bisa mengikuti rule di kelas & bisa bekerjasama dalam grup
- Assertion: memiliki inisiatif untuk minta tolong, bertanya & berpendapat jika menghadapi situasi yang tidak adil
- Responsibility: respek pada milik orang lain & bertanggungjawab atas tingkah lakunya sendiri
- Empati: peduli pada perasaan orang lain, mau memaafkan & bisa ikut merasakan perasaan orang lain
- Kontrol diri: mampu mengendalikan diri walaupun situasi mengundang reaksi & mampu berperilaku tepat dalam suasana konflik
Lalu apa manfaat memiliki keterampilan sosial yang baik ?
Ketika keterampilan sosial anak baik, maka anak akan diterima dengan baik dalam sebuah sistem sosial, misal sekolah, les, tempat ibadah, dan keluarga besar. Anak akan diterima dan interaksi dengan lingkungan baik. Dengan demikian anak akan merasa nyaman di lingkungannya. Ketika anak nyaman maka performa anak akan berkembang dengan baik, anak bisa menunjukkan dirinya dengan baik. Ketika anak mampu berperforma, misal di sekolah kita bisa lihat prestasi akademik maupun non akademik, di lingkungan pertemanan dia bisa mudah bergaul sehingga idenya bisa diterima orang lain tentu akan berimbas pada diri anak, kepercayaan diri meningkat dst.
Mengajari keterampilan sosial pada anak orangtua perlu mengingat bahwa keterampilan sosial ini bukan sekedar pengetahuan tapi terampil. Misal tidak hanya tahu ketika salah harus minta maaf tetapi sampai mampu melakukan. Ketika ada teman yang jatuh perlu ditolong dan mampu menolong. Maka kalau kita ingin anak punya keterampilan sosial yang baik tidak hanya dinasehati tetapi butuh proses praktek dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kalau ia berhadapan langsung dengan lingkungannya, anak bisa sendiri.
Kapan mulai bisa diajari? Ya sedari bayi. Karena interaksi bayi dengan orang lain sudah dimulai. Misal, bayi sudah mulai belajar ekspresi emosi walaupun belum tahu istilahnya. Bayi juga belajar mana yang boleh dan tidak, misal dia memukul kakaknya kita katakan tidak boleh dll. Bagaimana kalau anak tidak punya saudara? Maka kita perlu mengenalkan dengan teman sebayanya dulu, lewat interaksi dengan teman bayi lainnya, jadi perlu latihan interaksi sejak dini.
Nah, dalam setiap tahapan usia nanti akan ada katihan-latihan keterampilan sosial yang berbeda. Karena aspek perkembangan anak juga berbeda dan kebutuhannya juga berbeda, misalnya usia 7 tahun anak perlu belajar mengembangkan keterampilan sosial dalam kelompok. Apa perbedaannya dengan anak usia 3 atau 4 tahun? Contoh anak usia 4 tahun, durasi ketemu dengan teman di sekolah 3-4 jam tapi saat usia 7 tahun sudah 6-7 jam sehingga kemungkinan anak berinteraksi dan kemungkinan muncul konflik menjadi makin besar. Jenis permainan saat playgroup menyenangkan, kejar-kejaran, imaginative dll. Ketika anak SD sudah mulai mengerjakan tugas kreatif atau bermain bersama yang pakai aturan, misalnya sepak bola. Jenis interaksi komunikasi juga beda, misal bonekamu warna apa atau menjelaskan benda secara deskriptif. Untuk anak SD sudah mulai ada jokes dan gossip sehingga lebih kompleks. Maka keterampilan sosial yang perlu dibekalkan atau diberikan menjadi berbeda.
Keluarga inti memiliki peran terbesar, karena keluarga adalah lingkungan terdekat bagi anak. Anak akan mengamati bagaimana anggota keluarga inti berinteraksi dengan orang lain. Oh, kalau mama marah itu ngomel, maka itu menjadi contoh bagi anak. Oh, kalau mau mendapatkan apa yang kuinginkan di rumah, aku biasanya nangis guling-guling dan diberi, maka nanti di sekolah aku melakukan hal yang sama. Maka, khususnya ayah dan ibu menjadi orang penting pertama yang perlu sengaja menciptakan dirinya sebagai contoh. Setiap hal yang terjadi di rumah sebenarnya bagian yang dipelajari anak, maka orangtua perlu berhati-hati betul dalam bersikap, dan harus selalu konsisten.
Bagaimana mengembangkannya?
- Kesadaran diri: mengenal diri, memahami emosi, mengenal kebiasaan baik buruk, mengenal value, kekuatan dan kelemahan
- Pengelolaan diri: mengenal dan mengelola emosi, mengelola perilaku,mengelola perasaan/kecemasan dan motivasi
- Kesadaran sosial: memahami perasaan orang lain, toleran dan empati
- Keterampilan relasi: ramah, menyapa, sopan,percaya diri dan supel
- Pengambilan keputusan: peduli sesama dan bertanggungjawab
Ilustrasi sampul: creativemarket.com
Kembali
Arsip