Artikel Populer
17/11/2023
Menjadi Perempuan Bali
oleh: I Kadek Okta Dharmadhyaksa
“Harus bisa mejejaitan, masak, kerja, ngurus anak, melahirkan anak laki-laki, menyama-braya, membelah lautan, mengubah darah menjadi anggur sampai berubah jadi power rangers” adalah job description Perempuan Bali dalam beberapa persepsi.
Begitulah persepsi yang dimiliki beberapa Perempuan Bali, setidaknya beberapa individu yang saya wawancarai. Tentu, kalimat di atas berisi beberapa hiperbola, karena kalau sampai benar Perempuan Bali diekspektasikan membelah lautan, berarti orang-orang sudah gila.
Panggil saja Ibu Made, seorang Perempuan Bali paruh baya, yang cenderung menghabiskan waktunya untuk bekerja, dan disela-sela waktunya untuk menjalankan adat. Saya tanya, bagaimana dia mengatur waktunya, mengatur antara urusan dapur dengan urusan adat. “Ya harus dibisa-bisakan, kalau bukan kita siapa lagi yang akan ngurus semuanya” kurang lebih begitu katanya, dalam Bahasa Bali yang sudah saya translasi. Kalimat tersebut, memantik sebuah kebingungan, Perempuan yang saya lihat sudah menua, lemah, tidak memiliki banyak otot, tapi bak super hero, semua dia bisa kerjakan.
Seketika saya berpikir dan ingin mencari tahu lebih dalam, bagaimana Perempuan Bali hidup dalam kacamata mereka. Saya, lahir dan besar di Bali, melihat juga cara mereka hidup, tapi ada rasa keingintahuan untuk melihat bagaimana isi hati mereka dengan status lahir sebagai “Perempuan Bali”.
“Hidup sudah bak power rangers, segala hal bisa dilakukan” begitu kata Ayu (nama yang disamarkan). Sebuah perasaan, jika dirinya dituntut harus serba bisa mulai dari mejejaitan (membuat sarana upacara), menyama-braya (bermasyarakat), sampai dengan bekerja tergantung kondisi ekonomi keluarga. Banyaknya tugas atau ekspektasi untuk Perempuan di Bali, mungkin membuatnya terkesan seperti individu yang dominan, pionir bagi banyak hal, tapi nyatanya, secara sosial Perempuan Bali tak lebih dari masyarakat kelas dua. Kenapa Masyarakat kelas dua? Seperti kultur patriarki pada umumnya, secara politis seringkali Perempuan tak dianggap. Dalam banyak pengambilan keputusan, pihak Perempuan sangat jarang, bahkan tidak pernah dilibatkan.
Kita bisa mengambil contoh, dalam perumusan sebuah konklusi terkait penjualan suatu aset. Dalam pengalaman saya, dan dua orang individu yang saya tanyai, perempuan memang tidak pernah dilibatkan. Hal ini mungkin berkorelasi dengan status laki-laki Bali sebagai pewaris. Oleh karena itu juga, banyak keluarga yang sangat mengharapkan lahirnya anak laki-laki. Seakan-akan keberadaan anak laki laki adalah sebuah keharusan, sedangkan keberadaan anak Perempuan tidak lebih dari sekedar penghias rumah, atau pelaksana tugas rumah tangga.
Berbicara mengenai anak laki-laki, masih banyak keluarga-keluarga konvensional yang sangat mengekspektasikan bagi Perempuan untuk melahirkan anak laki-laki. Padahal anak laki-laki tak lahir karena pilihan atau asal comot melainkan mereka lahir karena tipe kromosom pria. Sudah bisa dilihat bagaimana kesesatan yang terjadi. Sepertinya kata “kesesatan” terlalu parah, mari kita pakai miskonsepsi. Bisa dilihat bagaimana miskonsepsi yang terjadi, seakan-akan jika anak yang lahir bukan laki-laki itu semua adalah salah Perempuan. Tidak jarang hal ini menciptakan perceraian, atau keputusan untuk menikah kembali, atau terus beranak pinak sampai anak berjumlah 7 atau 8.
Seandainya kita memutar waktu, di zaman dulu Perempuan memiliki kesempatan yang jauh lebih terbatas. Contoh sederhananya, mereka tidak disekolahkan. Tidak disekolahkan dengan alasan karena “Toh pada akhirnya Perempuan hanya akan mengurus rumah dan anak, jadi nda perlu pintar”. Berbeda dengan laki-laki yang cenderung disekolahkan, karena dirasa akan mengambil banyak keputusan penting dan akan menjadi kepala keluarga.
Pertanyaan yang terpantik mungkin, darimana asal semua ini? dari mana asal konsepsi jika Perempuan adalah kaum subordinat, sedangkan laki-laki sebaliknya? Gerda Lerner, seorang perintis kajian Sejarah terhadap perempuan, menjelaskan jika sistem patriarki sudah berasal pada periode 8000-3000 SM. Superioritas laki laki yang didasarkan pada perbedaan struktur biologis, yang menciptakan laki-laki lebih kuat secara fisik dengan struktur otot yang lebih kuat dibandingkan Perempuan. Hal ini tampak dalam pembagian kerja, khususnya dalam ranah pertanian, di mana laki-laki lebih mendominasi pekerjaan dan pada akhirnya berhasil mendominasi.
Dominasi awal yang pada akhirnya bermuara kepada perbudakan. Dalam diskusinya Lerner menyatakan jika perbudakan hingga prostitusi di zaman dulu memperkuat sistem patriarki. Di mana Perempuan benar-benar menjadi target opresi. Di saat mereka diam ketika diperbudak; melanggengkan dirinya untuk digunakan dalam prostitusi, maka hal tersebut akan semakin memperkuat superioritas laki-laki atas Perempuan.
Dalam tulisannya, Lerner menyampaikan hal yang sangat menarik, dan sangat sayang jika disalahtafsirkan. Oleh karena itu akan saya berikan saja kutipannya, and here it is:
“we will simply step out under the free sky. We will observe how it changes, how the stars rise and the moon circles, and we will describe the earth and its workings in male and female voices. We may, after all, see with greater enrichment. We now know that man is not t'e measure of that which is human, but men and women are. Men are not the centre of the world, but men and women are. This insight will transform consciousness as decisively as did Copernicus' discovery that the earth is not the centre of the universe, (Lerner, 1986)”.
Sederhananya, Lerner, saya, dan mungkin semua Perempuan Bali, perempuan di dunia ini berharap untuk dipandang setara, memiliki hak yang sama. Hak untuk memilih, memilih dan menentukan hidupnya. Tidak hanya menjalankan dogma-dogma jadul yang hanya mengekang kebebasan manusia. Saya tidak menentang adat, saya tidak menentang pembagian tugas yang sudah berjalan sekian ratus tahun lamanya, tapi mari berikan Perempuan pilihan. Pandang mereka sebagai manusia yang berhak hidup atas kehendaknya, bukan atas kehendak keluarga atau laki-laki yang selalu mengopresi mereka.
Gambar sampul: pinterest
Kembali
Arsip