Artikel Populer
05/04/2022
Pengalaman Saja Tidaklah Cukup
oleh: Agung Santoso, Ph.D.
Pepatah kata mengatakan, “Pengalaman adalah guru terbaik”. Kita juga sangat menghargai orang-orang yang memiliki banyak pengalaman dalam bidang tertentu dengan menyematkan gelar ‘ahli’ pada mereka. Bahkan tidak jarang orang-orang yang telah bekerja di suatu bidang tertentu dalam waktu yang lama juga dianggap ‘berpengalaman di bidangnya’. Namun demikian, benarkah pengalaman saja cukup untuk membuat seseorang menjadi ahli?
Mungkin beberapa dari kita pernah bertemu dengan seseorang yang dianggap berpengalaman tetapi justru tidak menunjukkan kepakaran yang diharapkan. Mereka menggunakan pendekatan yang sama untuk menyelesaikan berbagai masalah yang beragam tanpa memperhatikan konteks dan kebaruan permasalahan yang dihadapi. Bahkan sering pula terjadi, seorang ahli kekeuh menggunakan suatu pendekatan meskipun sudah terbukti tidak efektif. Pengalaman oleh karenanya justru menjadi lubang jebakan yang membuat seseorang terhenti dari pengembangan keahliannya.
Jika demikian, masihkah pengalaman menjadi guru terbaik?
Deliberate Practice: Latihan yang Disengaja
Dalam penelitian-penelitian yang dilakukannya, K. Anders Ericsson menemukan bahwa lamanya pengalaman dalam suatu bidang, reputasi dan penilaian tentang keahlian seseorang memiliki hubungan yang lemah dengan keahlian yang sebenarnya dimiliki seseorang. Lemahnya hubungan ini diakibatkan oleh adanya proses pembiasaaan setelah melakukan aktivitas yang sama berulang-ulang yang diiringi dengan penyesuaian kinerja seseorang dengan tuntutan terhadap situasi tertentu. Karena proses melakukan aktivitas ini semakin otomatis, kendali seseorang secara sadar terhadap aspek-aspek perilakunya sendiri makin melemah. Melemahnya kendali sadar ini membuat kemampuan seseorang untuk melakukan penyesuaian atau perubahan yang disengaja makin sulit, meskipun situasi dan kondisi menghendakinya. Proses otomatisasi inilah yang menghambat seseorang dapat mengembangkan keahliannya.
Pengalaman dapat mengembangkan keahlian seseorang hanya jika seseorang dengan sengaja belajar dari pengalamannya. Sengaja belajar atau berlatih dari pengalaman ini, atau yang dalam bahasa aslinya disebut deliberate practice, memiliki empat persyaratan.
Persyaratan pertama adalah adanya tujuan berlatih yang didefinisikan dengan jelas. Selain itu, orang yang memutuskan untuk berlatih atau belajar tersebut memiliki motivasi untuk menjadi lebih baik. Umpan balik merupakan persyaratan berikutnya agar belajar dari pengalaman dapat membuat keahlian seseorang meningkat. Terakhir, latihan atau belajar yang disengaja hanya akan meningkatkan keahlian jika dilakukan berulang kali dengan peningkatan secara bertahap. Dengan kata lain, latihan yang disengaja ini membutuhkan konsentrasi penuh dalam prosesnya sekaligus kesengajaan untuk mengembangkan cara-cara baru dalam memecahkan masalah yang muncul dalam menjalankan tugas yang dilatihkan.
Usaha untuk secara sadar dan sengaja belajar dari pengalaman akan membebaskan seseorang dari mandegnya perkembangan keahlian yang diakibatkan pembiasaan. Penetapan tujuan yang selalu baru dan standar yang makin tinggi, meskipun hanya berupa peningkatan kecil, membuat seseorang dapat melawan kecenderungan untuk menjadi terbiasa dengan praktek sebelumnya. Jika seseorang melakukan praktek seperti ini secara terus menerus maka kemampuannya mengobservasi dan mengevaluasi perilakunya sendiri menjadi makin terasah. Pada akhirnya, makin terasahnya dua kemampuan ini membuat hasil pengamatan dan evaluasi seseorang akan kebutuhan untuk meningkatkan keahlian juga makin akurat.
Tujuan Berlatih yang Spesifik
Syarat pertama dari latihan yang disengaja atau deliberate practice adalah bahwa seseorang harus memiliki tujuan untuk meningkatkan salah satu aspek dari aktivitasnya secara spesifik bukan keseluruhan aspek keahliannya. Tujuan tersebut tidak dapat dinyatakan secara umum seperti, “Saya akan mengerjakan ujian lebih baik”, atau, ”Saya akan belajar lebih rajin”. Tujuan harus dinyatakan sespesifik mungkin seperti,”Saya akan membaca soal paling tidak dua kali sebelum mengerjakannya untuk memastikan pemahaman saya benar dan satu kali setelah saya menuliskan atau memilih jawaban saya,” atau ”Saya akan menambah jam belajar saya setiap minggu sebanyak 10 menit”.
Tentu saja tujuan ini harus didasarkan pada evaluasi dari perilaku sebelumnya yang ingin ditingkatkan. Evaluasi ini tidak dapat dilakukan tanpa kesengajaan dan kesadaran penuh untuk meningkatkan keahlian seseorang. Kesengajaan ini berarti seseorang harus dengan sengaja dan penuh kesadaran menyediakan waktu khusus untuk melakukan evaluasi terhadap perilakunya saat ini dan bagaimana perilaku tersebut dapat ditingkatkan lebih efektif atau efisien.
Perlu dicatat di sini bahwa seseorang yang mengembangkan keahliannya tidak disarankan untuk menetapkan tujuan-tujuan besar yang sulit dicapai dalam jangka waktu yang terbatas. Penetapan tujuan yang terlalu sulit untuk dicapai justru dapat membuat seseorang frustrasi dan pada akhirnya berhenti meningkatkan keahliannya. Namun demikian tujuan juga tidak boleh ditetapkan terlalu mudah. Tujuan yang dengan mudah dapat diraih tidak akan memberikan tantangan untuk dapat meningkatkan diri sendiri. Penentuan tujuan dengan tingkat kesulitan yang tepat ini dapat banyak dibantu oleh orang-orang yang memiliki keahlian yang lebih tinggi melalui supervisi.
Motivasi Menjadi Lebih Baik
Proses yang harus dilalui seseorang dalam deliberate practice ini merupakan proses panjang dan berat. Beberapa partisipan yang terlibat dalam penelitian mengenai topik ini melaporkan bahwa proses yang mereka lalui cenderung tidak menyenangkan karena mereka terus dituntut untuk melakukan sesuatu yang lebih. Selain itu umpan balik berupa kemungkinan untuk meningkatkan diri dapat ditanggapi secara negatif sebagai kurangnya penghargaan terhadap prestasi yang telah diraih.
Oleh karena itu, selain lingkungan yang suportif dan cara menyampaikan umpan balik yang konstruktif, faktor lain yang juga penting dalam menjalankan deliberate practice ini adalah motivasi yang besar untuk meningkatkan diri sendiri. Orang-orang dengan keteguhan hati dan ketekunan yang kuat untuk maju dan menjadi lebih baik akan memiliki peluang lebih besar untuk berhasil dalam proses panjang yang tidak akan berakhir ini.
Angela Duckworth memperkenalkan suatu istilah yang dapat menggambarkan keteguhan hati dan ketekunan ini : Grit. Grit merupakan ketekunan dan semangat untuk mencapai tujuan jangka panjang. Dengan kata lain Grit menggambarkan kecenderungan seseorang untuk meraih tujuan jangka panjang dengan dedikasi yang teguh.
Grit dapat ditumbuhkan baik dari dalam diri individu itu sendiri maupun dipelajari dari lingkungan. Ketertarikan dan passion, keyakinan akan tujuan, dan pengharapan. Ketertarikan dan passion terkait erat dengan kecintaan terhadap apa yang dikerjakan. Adanya tujuan juga akan mendorong seseorang menjadi lebih gigih dan makin tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan kesulitan atau tantangan. Pengharapan merupakan keyakinan bahwa usaha-usaha yang kita kerjakan akan membuat masa depan lebih baik.
Selain itu, grit juga dapat ditumbuhkan dalam lingkungan yang kondusif. Lingkungan kondusif tersebut merupakan lingkungan yang suportif dan penuh cinta, tetapi pada saat yang bersamaan juga memiliki standar yang tinggi akan perilaku yang dapat diterima. Angela Duckworth menyebutnya sebagai pola pengasuhan yang bijaksana (wise parenting).
Umpan Balik
Tidak dapat dipungkiri bahwa umpan balik dari orang yang lebih ahli merupakan bagian penting dari perkembangan kemampuan seseorang. Tanpa umpan balik dari orang yang lebih ahli, sulit bagi seseorang untuk menentukan langkah apa yang perlu diambil kemudian. Oleh karena itu supervisi atau mentoring menjadi aktivitas yang penting dalam proses pengembangan diri.
Selain orang yang lebih ahli, umpan balik juga dapat diperoleh dari hasil tindakan atau perilaku. Hasil yang tidak memuaskan atau tidak sesuai dengan harapan memberikan informasi bahwa cara atau strategi yang dipilih tidak efektif dalam menyelesaikan permasalahan.
Agar efektif, umpan balik juga perlu diberikan dengan segera setelah perilaku baik yang sesuai harapan maupun yang tidak sesuai muncul. Umpan balik tidak hanya memberikan informasi mengenai perilaku mana yang dapat ditingkatkan, tetapi juga bagaimana cara meningkatkannya. Dengan kata lain umpan balik harus se-informatif mungkin agar orang yang menerimanya dapat mengembangkan keahliannya.
Kesempatan untuk Mengulangi dan Memperbaiki Kesalahan
Persyaratan yang terakhir dalam deliberate practice adalah banyaknya kesempatan untuk melatih perilaku yang sudah tepat, memperbaiki kesalahan, dan melatihkan perilaku yang dianggap lebih baik. Seperti yang telah disebutkan dalam proses penetapan tujuan, perilaku yang dilatihkan di sini merupakan perilaku dengan tingkat kesulitan yang tepat, “sedikit lebih baik”.
Prinsip peningkatan secara bertahap dengan menggunakan langkah-langkah kecil sudah dikenal cukup lama sebagai filosofi manajemen dari Jepang : Kaizen. Kaizen berarti peningkatan bertahap yang terus menerus. Filosofi tersebut mengajarkan bahwa peningkatan kecil tetapi terus-menerus pada akhirnya akan mencapai peningkatan yang besar.
Oleh karena itu, seseorang yang ingin meningkatkan keahliannya, perlu menetapkan tujuan-tujuan dengan tingkat kesulitan yang tepat dan meraih tujuan-tujuan tersebut melalui peningkatan perilaku keahlian dengan taraf kesulitan yang tepat, meskipun tidak ambisius.
Jadi... Ya, pengalaman masih merupakan guru yang terbaik, hanya jika kita memutuskan untuk belajar darinya secara sadar dan dengan keinginan untuk mengembangkan diri. Tanpa kesadaran dan kesengajaan itu, pengalaman hanya akan membuat kita terjebak pada pembiasaan yang mengkerdilkan.
Kembali
Arsip