Artikel Populer
24/01/2022
Perkembangan Metodologi dalam Psikologi: Sebuah Catatan Pandangan Burung
oleh: Prof A. Supratiknya Ph. D
Yang dimaksud metodologi mencakup keseluruhan pandangan seorang peneliti tentang hakikat objek penelitiannya, tujuan dia meneliti, cara dia bisa memperoleh pengetahuan tentang objek penelitiannya, dan tentu saja cara-cara yang perlu dia tempuh untuk mengumpulkan data dan membangun argumentasi untuk mensahkan pengetahuan baru yang berhasil dirumuskannya. Sejak kelahirannya sebagai disiplin ilmu di penghujung abad ke-20 hingga kini, secara garis besar bisa dilacak tiga tahap dalam perkembangan metodologi penelitian di bidang psikologi. Tiga tahap yang dimaksud meliputi tahap psikologi eksperimental, tahap psikologi korelasional, dan tahap psikologi kualitatif.
Tahap Psikologi Eksperimental
Di masa awal berdirinya sebagai disiplin ilmu Psikologi menghadapi tantangan antara terus dipandang sebagai subdisiplin Filsafat atau direduksi menjadi sekadar bagian dari Fisiologi (Goodwin, 2003). Untuk mengatasi stigma itu sekaligus menegaskan identitasnya sebagai disiplin ilmu yang baru di masa awal berdirinya Psikologi mengembangkan metodologi eksperimental sebagai metodologi ilmiah dalam rangka mempelajari objek penelitiannya. Seperti disiplin ilmu lainnya, di awal masa berdirinya Psikologi juga bertujuan mengungkap kausalitas atau hubungan sebab dan akibat antara sebuah fenomen dan satu atau lebih fenomen lain (Howitt & Cramer, 2011). Maka kita ketahui dari kepustakaan bahwa Wilhelm Wundt di Jerman atau Edward Bradford Titchener di Amerika Serikat sebagai pelopor berdirinya Psikologi sebagai disiplin ilmu sekitar tahun 1897 mengembangkan metodologi eksperimental untuk mengungkap struktur dasar pengalaman sadar manusia dengan cara meneliti sensasi atau penginderaan, persepsi dan ingatan secara eksperimental. Sampai dasawarsa 1920-an di Amerika Serikat metodologi eksperimental itu berkembang pesat melibatkan penggunaan aparatus atau peralatan canggih terbuat dari logam sedemikian rupa sampai-sampai psikologi di Amerika Serikat di masa itu secara olok-olok dijuluki ‘brass-instrument psychology’ atau ‘psikologi instrumen logam’ oleh William James, pelopor lain Psikologi di Amerika Serikat (Goodwin, 2003).
Metodologi eksperimental yang dikembangkan di masa itu memiliki beberapa ciri utama sebagai berikut (Goodwin, 2003). Pertama, pelaksanaan eksperimen hanya melibatkan ‘very few individuals’ sebagai subjek penelitian, yaitu sekitar 3 sampai 4 orang. Kedua, aneka kondisi eksperimennya - mulai dari tritmen atau tugas yang harus dilakukan subjek sampai keadaan ruangan dan sebanyak mungkin kalau bukan seluruh aspek atau variabel lingkungannya - dikontrol atau dikendalikan secara ketat. Ketiga, data berupa hasil kinerja dari tiap subjek dicatat dan disajikan secara terpisah atau sendiri-sendiri tidak dalam bentuk ringkasan statistik. Selain karena saat itu analisis statistik inferensial belum dikenal, penyajian data secara individual ini juga memiliki maksud lain, yaitu - keempat, untuk membuktikan atau mencari tahu apakah prosedur eksperimental itu memunculkan hasil yang serupa atau sama dari tiap subjek. Artinya, subjek tambahan diharapkan menunjukkan ‘replikasi’ atau tiruan dari hasil kinerja subjek sebelumnya sebagai bukti kesahihan ‘teori’ yang sedang diuji melalui prosedur eksperimental yang dilaksanakan. Kelima, peneliti berperan baik sebagai eksperimentalis maupun sebagai subjek sekaligus. Tidak ada pembedaan secara kaku antara peneliti dan subjek penelitian. Artinya, di zaman Wundt dan para psikolog eksperimental lain di Jerman maupun Amerika Serikat, riset atau penelitian merupakan kegiatan kolaboratif antar ahli sejawat (Goodwin, 2003). Baik peneliti maupun subjek penelitian sama-sama berstatus sebagai ahli. Konon, psikologi eksperimental strukturalis dengan agenda mengungkap struktur kesadaran manusia ini mulai pudar memasuki dasa warsa 1920-an di Amerika Serikat dan praktis ditinggalkan sesudah kematian Titchener pada 1927 (Goodwin, 2003). Bukan berarti bahwa psikologi eksperimental sebagai metodologi penelitian lenyap dari khazanah metodologi penelitian Psikologi sebagaimana akan kita lihat pada bagian berikut.
Tahap Psikologi Korelasional
Tahap baru perkembangan metodologi dalam Psikologi ditandai oleh diciptakannya metode ‘survei’ atau kuesioner oleh Charles Darwin dan sepupunya Francis Galton di Inggris (Goodwin, 2003). Di Amerika Serikat pengembangan metode survei dipelopori oleh G. Stanley Hall yang menciptakan questionaries atau kini kita kenal sebagai ‘kuesioner’ untuk meneliti perkembangan anak dan remaja dengan cara mengungkap ‘the contents of children’s minds’ atau isi jiwa anak dan remaja (Goodwin, 2003). Perkembangan metodologi survei atau kuesioner ini mendapatkan suntikan energi untuk berkembang lebih lanjut dari gerakan ‘mental testing’. Upaya rintisan Galton mempelajari kemampuan mental dikembangkan oleh James McKeen Cattell di Universitas Columbia, Amerika Serikat, yang menciptakan ‘mental tests’ termasuk menciptakan istilah ‘mental tests’ itu sendiri khususnya masih terbatas untuk mengukur ‘simple sensory capacity and judgment’ atau kemampuan memberikan penilaian inderawi sederhana warisan dari tradisi metodologi eksperimental strukturalis. Dua ciri utama metodologi baru ini – dibandingkan dengan metodologi eksperimental strukturalis yang mendahuluinya – adalah sebagai berikut. Pertama, metodologi survei atau kuesioner melibatkan subjek penelitian dalam jumlah yang besar atau banyak dan terdiri dari awam bukan ahli. Kedua, data disajikan secara ringkas pada awalnya dalam bentuk persentase, namun selanjutnya menggunakan teknik statistik lain khususnya teknik korelasi yang sementara itu mulai dikembangkan oleh ahli lain. Menyaksikan perkembangan ini, Robert Woodworth – salah seorang tokoh penting psikologi eksperimental di Universitas Columbia, Amerika Serikat – memberikan tanggapan sebagai berikut. Pertama, dia menunjukkan keberadaan sekaligus perbedaan antara ‘experimental methodologies’ atau metodologi eksperimental dan ‘correlational methodologies’ atau metodologi korelasional. Menurutnya, kausalitas atau bubungan sebab-akibat antara satu hal dengan satu atau lebih hal lain bisa diungkap dengan metodologi eksperimental, namun tidak mungkin diungkap dengan metodologi korelasional. Pembedaan antara dua metodologi yang dilakukan oleh Woodworth ini kelak dikukuhkan oleh Lee Cronbach sebagai dua subdisiplin dalam Psikologi melalui artikelnya yang terkenal, “The two disciplines of scientific psychology” (1957), kendati di kemudian hari dikoreksi dalam artikel lain yang juga terkenal, “Beyond the two disciplines of scientific psychology” (1975). Kedua, dia menyebut variabel yang dimanipulasikan khususnya dalam metodologi eksperimental sebagai ‘variabel independen’ dan variabel yang diukur sebagai dampak variabel independen, ‘variabel dependen’. Clark Wissler, murid Cattell di Universitas Columbia, mengembangkan lebih lanjut karya Cattell dengan cara menggunakan ‘the new statistical tool of correlation’ pada para mahasiswa baru Universitas Columbia untuk memeriksa hubungan antar sejumlah tes serta mencari tahu apakah skor pada tes-tes itu memiliki hubungan tertentu dengan keberhasilan mahasiswa menempuh studi di Universitas Columbia. Cattell dan Wissler dipandang berjasa merintis pengembangan dan penerapan ‘admission tools’ atau sarana seleksi dalam penerimaan mahasiswa baru serta pengembangan metodologi korelasional dalam Psikologi pada umumnya. Dengan ditemukan dan dikembangkannya metodologi baru yang bersifat kuantitatif ini, Psikologi tidak terkungkung hanya mempelajari kausalitas atau hubungan sebab-akibat antar dua atau lebih fenomen tingkah laku yang relatif sederhana melainkan bisa mengungkap fenomen tingkah laku manusia dalam kompleksitas hubungan baik satu sama lain maupun dengan fenomen atau kondisi lain. Perkembangan ini juga sangat ditunjang oleh perkembangan teknik statistik yang makin canggih dan berdampak mengukuhkan psikologi eksperimental dan metodologi korelasional sebagai metodologi kuantitatif dalam riset Psikologi.
Tahap Psikologi Kualitatif
Psikologi kuantitatif dengan ‘hypothesis testing’ atau pengujian hipotesis secara statistik sebagai metodologi andalannya mendasarkan diri pada pendekatan filsafat ilmu yang disebut positivisme logis, yaitu sebuah cara pandang yang menggabungkan antara positivisme atau empirisme dan logika (Capaldi & Proctor, 2003). Menurut kaum positivis logis, semua pernyataan atau pengetahuan atau teori dapat digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu sintetik, analitik, dan non-sense atau omong kosong. Pernyataan sintetik bersifat empiris atau mengacu pada kenyataan yang bisa diamati, seperti “rumput berwarna hijau”; pernyataan analitik bersifat logis dan benar sesuai definisi atau pembatasannya, seperti “semua bujangan berstatus tidak menikah”; sedangkan semua pernyataan lain yang bukan sintetik maupun analitik adalah omong kosong belaka meliputi semua pernyataan yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara empiris maupun secara logis. Dalam Psikologi positivisme logis memacu perkembangan behaviorisme yang secara ekstrim bisa dimaknai sebagai pandangan teoretis yang menekankan bahwa objek kajian Psikologi adalah tingkah laku yang teramati tanpa perlu mengacu pada kesadaran atau konsep-konsep lain yang bersifat mentalistik atau kejiwaan sebagai sesuatu yang melatarinya. Tugas Psikologi adalah menemukan dan merumuskan hukum-hukum tentang tingkah laku manusia yang kurang lebih berlaku secara universal atau umum, seperti berbagai jenis hukum belajar.
Pandangan di atas tentu saja menimbulkan kegalauan di kalangan ahli Psikologi lain yang tertarik mendalami lived experience atau pengalaman hidup manusia dan yang mengandalkan narasi atau cerita dan jenis-jenis teks lain sebagai data utamanya. Kegalauan ini dikukuhkan dan diberi jalan keluar oleh posmodernisme, yaitu gerakan di kalangan ilmuwan-peneliti ilmu-ilmu sosial kemanusiaan termasuk Psikologi untuk menemukan metodologi alternatif dalam mengungkap dan memahami tingkah laku manusia dengan berbagai produknya. Berbeda dengan kaum ilmuwan sosial sebelumnya yang mempercayai keberadaan hukum-hukum tingkah laku yang bersifat universal, kaum posmodernis berpandangan bahwa semua pengetahuan bersifat personal. Validitas atau kesahihan atau kebenaran setiap pandangan atau teori ditentukan oleh konteks spesifik tempat teori atau pengetahuan itu ditemukan dan dirumuskan. Bahkan perbedaan sekecil apa pun antara dua situasi bisa melahirkan hal-hal baru yang tidak terbayangkan sebelumnya. Maka menurut kaum posmodernis, mustahil menggeneralisasikan atau mengalihkan pengetahuan yang diperoleh dari hasil sebuah eksperimen ke eksperimen lain apalagi ke dunia nyata. Jika kaum ilmuwan sosial sebelumnya berkeyakinan bahwa mereka mampu mengetahui segala sesuatu, maka kaum ilmuwan sosial posmodernis khususnya yang bersikap radikal berkeyakinan bahwa mereka tidak mungkin mencapai pengetahuan tentang apa pun (Capaldi & Proctor, 2003). Yang bisa dilakukan adalah mencoba memahami setiap fenomen tingkah laku manusia dalam konteks ruang dan waktu yang melingkunginya dengan mengandalkan cerita dan kisah para partisipan penelitian tentang pengalaman mereka sebagai data. Gerakan ini memicu dan memacu perkembangan metodologi kualitatif dalam Psikologi.
Penutup
Catatan pandangan burung tentang sejarah perkembangan metodologi dalam Psikologi di atas saya kemukakan sebagai pengantar mata kuliah Psikologi Eksperimen, khususnya sebagai argumen atau alasan bagi keyakinan saya bahwa urutan penyajian tiga mata kuliah metodologi penelitian dalam kurikulum Program S1 Psikologi, yaitu Metodologi Penelitian Kuantitatif, Metodologi Penelitian Kualitatif dan Psikologi Eksperimen seyogyanya dimulai dengan menyajikan mata kuliah Psikologi Eksperimen pada semester awal, diikuti mata kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif pada semester berikutnya, dan diakhiri dengan penyajian mata kuliah Metodologi Penelitian Kualitatif pada semester yang lebih lanjut. Urutan penyajian itu selain historis dalam arti sejalan dengan perkembangan metodologi maupun disiplin ilmu Psikologi pada umumnya sejak kelahirannya di penghujung abad ke-20 hingga kini, juga logis sebab konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar metodologi penelitian kuantitatif seperti variabel, kontrol variabel, pengujian hipotesis, dan replikasi sudah mulai dirumuskan dan diterapkan dalam metodologi penelitian eksperimental sehingga akan lebih mudah dipahami jika dipelajari dalam rangka mempelajari Psikologi Eksperimen.
Mungkin yang sedikit problematis adalah ‘Psikologi Eksperimen’ sebagai nama mata kuliah metodologi penelitian. Mengenal sedikit sejarahnya kiranya bisa membantu menjernihkan pemahaman kita. Seperti dituturkan oleh Goodwin (2003), laboratorium yang merupakan sarana utama Psikologi Eksperimen dimaknai secara agak berbeda di tempat asalnya di Jerman dan tempat perkembangan selanjutnya di Amerika Serikat. Di Jerman laboratorium dan Psikologi Eksperimen lebih dimaknai sebagai tempat riset, sedangkan di Amerika Serikat lebih ditekankan fungsi pedagogisnya dalam rangka formasi atau membentuk mahasiswa sebagai calon ilmuwan Psikologi. Sebagai media pembelajaran di Amerika Serikat Psikologi Eksperimen disebut ‘drill course’ dengan tujuan membantu mahasiswa menyerap dan menghayati nilai-nilai atau etos kerja para pelopor Psikologi ilmiah dengan cara mereplikasi eksperimen-eksperimen klasik, belajar menggunakan dan merawat berbagai aparatus eksperimental canggih, berlatih menerapkan metode introspeksi dan observasi secara cermat serta menumbuhkan keyakinan bahwa fenomen psikologis dapat dipahami dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Masih menurut Goodwin (2003), ‘drill course’ menjadi bagian standar kurikulum Psikologi saat itu dan untuk pelaksanaannya diperlukan sejenis manual atau buku pegangan. Robert Woodworth, dosen di Universitas Columbia, Amerika Serikat, merintis penyusunannya, dimulai dengan menuliskan hand-outs stensilan yang dibagikan kepada mahasiswa peserta mata kuliah yang diampunya dan berakhir dengan terbitnya buku teks “Experimental Psychology” setebal 225 halaman yang dipakai secara luas dan selanjutnya dikenal sebagai “Columbia Bible”. Tanpa menghilangkan sisi formatifnya dalam rangka mempersiapkan calon ilmuwan Psikologi, Psikologi Eksperimen yang kita jalani lebih dimaksudkan sebagai sarana untuk mempelajari eksperimentasi sebagai metodologi penelitian dalam Psikologi, bukan sebagai “drill-course”!
Daftar Acuan
Capaldi, E.J., & Proctor, R.W. (2003). Current and future trends in experimental psychology. Dalam S.E. Davis (Ed.), Handbook of research methods in experimental psychology (h. 24-38). Malden, MA: Blackwell.
Cronbach, L.J. (1957). The two disciplines of scientific psychology. American Psychologist, 12(11), 671-684. https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/h0043943
Cronbach, L.J. (1975). Beyond the two disciplines of scientific psychology. American Psychologist, 30(2), 116-127. https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/h0076829
Goodwin, C.J. (2003). Psychology’s experimental foundations. Dalam S.E. Davis (Ed.), Handbook of research methods in experimental psychology (h. 3-23). Malden, MA: Blackwell.
Howitt, D., & Cramer, D. (2011). Introduction to research methods in psychology (3rd ed.). Harlow, England: Pearson.
----------
Cara yang benar dalam mengacu sumber ini:
Supratiknya, A. (2020). Perkembangan metodologi dalam psikologi: Sebuah catatan pandangan burung [Manuskrip tidak diterbitkan]. Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma.
----------
Disiapkan tanggal 18 Agustus 2019, sebagai pengantar mata kuliah Psikologi Eksperimen yang diselenggarakan dalam semester gasal tahun akademik 2019-2020. Diperbaiki untuk kuliah semester gasal tahun akademik 2021-2022.
----------
Sumber ilustrasi: https://www.istockphoto.com/id/foto/e-learning-pendidikan-online-atau-konsep-ensiklopedia-internet-buka-laptop-dan-gm1263424631-369803785
Kembali
Arsip