Pada masa kini, istilah “stres” telah menjadi bagian dalam percakapan sehari-hari. Dalam Psikologi, stres seringkali dipahami sebagai sebuah fase yang dialami seseorang ketika ia merasa tertuntut, tertekan, dan tidak nyaman (Sarafino, E. P., & Smith, T. W. 2014). Bahkan, tidak jarang seseorang memunculkan perasaan tidak mampu untuk mengatasi berbagai tuntutan tersebut. Fenomena stres ini seringkali kita alami, tetapi kebanyakan orang tidak mengetahui penyebab dan dampaknya.
Stres merupakan hasil respon terhadap stimulus yang tidak nyaman atau menyenangkan. Stimulus ini umumnya disebut
stressor, yang mana wujudnya dapat berupa tugas atau pengalaman yang cenderung menyulitkan, sebagai contoh seperti tuntutan pekerjaan, tugas sekolah, berita duka, dan lain sebagainya. Berbeda dengan
eustress yang dianggap kondisi psikologis yang wajar dan mengembangkan seseorang, jenis stres yang paling berperan terhadap berbagai risiko penyakit adalah
distress.
Distress dapat dijelaskan sebagai stres yang bersifat negatif, yang bersifat membahayakan dan merusak seseorang, yang disebabkan karena adanya peristiwa buruk atau traumatis.
Mengapa
distress relevan untuk dielaborasi? Pertama, setiap orang di dunia pasti pernah mengalami
distress. Kedua, di masa pandemi ini intensitas penyebab
distress jauh meningkat, dikarenakan banyaknya peristiwa buruk ditambah adanya kehilangan orang yang dicintai. Dengan kata lain, situasi pandemi cenderung menekan kita melalui peristiwa yang traumatis.
Distress berpotensi menganggu bagaimana seseorang mengorganisasi hidupnya.
Distress juga berpotensi memicu datangnya penyakit yang serius. Lantas,
distress tidak bisa dipandang dengan remeh serta perlu dicari tahu bagaimana prevensi dan penanggulangannya.
Dalam penelitian yang dilakukan Karasek et al., (1981),
distress yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gangguan terhadap kardiovaskular yang dapat memicu terjadinya stroke. Stroke merupakan kondisi klinis dimana sel-sel otak mengalami kematian mendadak karena kekurangan oksigen ketika aliran darah ke otak mengalami penyumbatan atau pecahnya arteri ke otak (Johnson et al., 2016).
World Health Organization (WHO) (2019) melaporkan bahwa penyakit stroke bertanggung jawab atas 11% kematian di dunia dengan menempati peringkat kedua di dunia setelah penyakit jantung. Secara spesifik hal serupa juga ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan di University of Michigan yang mana menemukan bahwa pria yang lebih reaktif terhadap stres memiliki peluang menderita stroke sebesar 72% dibandingkan dengan pria yang tidak reaktif terhadap stres (Afifah, 2020).
Lalu bagaimana kaitan antara stres dengan peningkatan risiko penyakit stroke? Ketika kita mengalami stres, tubuh akan menghasilkan hormon
hypothalamic–pituitary–adrenal (HPA)
axis. Semakin lama tubuh terpapar hormon HPA maka akan mengakibatkan hambatan pada pasokan darah ke otak. Peristiwa ini bisa menyebabkan adanya peradangan pada sistem saraf di otak akibat kurangnya pasokan oksigen dalam otak, sehingga terjadi stroke (Stuller et al., 2012). Hal ini sesuai dengan pendapat dokter ahli stroke dari Cleveland Clinic AS, Irene Katzan, MD., bahwa stres merupakan faktor risiko penyebab stroke karena berperan besar dalam memicu peradangan.
Melihat kuatnya relasi antara stres dengan stroke, tentunya diperlukan sebuah mekanisme yang dapat mengurangi relasi antara kedua hal tersebut, dan strategi
coping stres bisa menjadi sebuah alternatif untuk itu. Ketika stres seseorang dapat ditangani maka faktor risiko lainnya terhadap penyakit juga dapat diminimalisir. Lazarus & Folkman (1984) menjelaskan bahwa
coping adalah suatu upaya kognitif dan perilaku dengan tujuan untuk mengelola tuntutan dari eksternal maupun internal yang dinilai membebani atau melebihi kapasitas orang tersebut.
Cara untuk melakukan
coping relatif mudah dan dapat dilakukan kapan saja oleh setiap orang tanpa memerlukan kemampuan tertentu. Menurut Moos & Billings dalam Weiten, Dunn, & Hammer (2011), terdapat tiga teknik
coping konstruktif yang dapat dilakukan, yaitu
Appraisal Focused Coping, Problem Focused Coping, dan Emotion Focused Coping. Appraisal Focused Coping adalah strategi
coping yang berfokus untuk mengubah penilaian seseorang atas peristiwa di masa sulit. Strategi
coping stres ini memungkinkan seseorang untuk mengubah cara berpikirnya atas kejadian yang membuatnya stres. Misalnya, pada situasi pekerjaan yang kurang menyenangkan, seseorang dapat mencoba untuk mengubah cara pandangnya dengan cara lebih melihat sisi menyenangkan dari pekerjaan yang dilakukannya. Dengan demikian, maka seseorang akan merasa lebih baik dalam menghadapi pekerjaan sebagai sumber
distress-nya.
Selanjutnya, teknik
Problem Focused Coping adalah strategi
coping yang berfokus untuk mengubah situasi yang menjadi penyebab masalah atau stres yang dialami seseorang. Dengan menerapkan teknik ini, seseorang akan mencoba untuk mengelola stresnya dengan cara mengubah situasi yang menjadi
stressor baginya. Sebagai contoh adalah memilih untuk keluar dari hubungan percintaan atau pertemanan yang bersifat
toxic.
Terakhir, teknik
Emotion Focused Coping adalah strategi
coping yang berfokus untuk mengubah perasaan atau reaksi terhadap masalah atau stres yang sedang dialami seseorang. Ketika seseorang memahami perasaannya saat dihadapkan oleh situasi yang membuatnya stres, maka untuk mengelola stressnya seseorang dapat menggunakan teknik ini untuk mengubah perasaan
distress-nya tersebut. Misalnya, ketika berada dalam situasi pekerjaan yang membuat seseorang tertekan, orang tersebut dapat mengubah tekanan tersebut ke dalam humor yang dapat mengurangi tensi dari tekanan yang dirasakannya.
Ketiga cara
coping stres yang telah dijelaskan sebelumnya dapat dilakukan kapan saja dan dalam segala situasi. Dibandingkan mengatasi stres dengan alkohol, merokok, atau perilaku merugikan lainnya, cara
coping stres yang ditawarkan lebih sederhana dan dapat meminimalisir stres tanpa harus merugikan kesehatan fisik kita. Oleh karena itu, mengelola stres yang ada dalam diri kita dengan cara tersebut tidak hanya dapat memberikan keuntungan terhadap kesehatan psikologis, tetapi juga dapat menghindarkan kita dari kemungkinan timbulnya penyakit fisik lain dalam diri kita, termasuk penyakit stroke.
Carr, D. & Umberson, D. (2013).
The social psychology of stress, health, and coping. Dalam J. DeLamater & A. Ward
, Handbook of social psychology (hlm. 465-487). Springer.
Ristekbrin. (2020). Data riset dan teknologi Covid-19 Indonesia. Diakses pada 6 Oktober 2021, dari http://sinta.ristekbrin.go.id/covid/penelitian/detail/245
Johnson, W., Onuma, O., Owolabi, M. & Sachdev, S. (2016).
Stroke: A global response is needed. Bulletin of the World Health Organization, 94(9), 634–634A.
Karasek R.A., Baker D., Marxer F., Ahlbom A., Theorell T. (1981).
Job decision latitude, job demands, and cardiovascular disease: A prospective study of Swedish men. Am J Public Health, 71:694–705.
Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984).
Stress, appraisal, and coping. Springer.
Lovallo, W. R. (2005).
Stress and health: Biological and psychological interactions (ed.ke-2). Thousand Oaks, CA: Sage
.Afifah, M.N. (2020, 12 Oktober). Stres dapat menyebabkan stroke, kok bisa? kompas.com. Diakses pada 6 October 2021, dari https://health.kompas.com/read/2020/10/12/103300968/stres-dapat-menyebabkan-stroke-kok-bisa-?page=all.
Rozanski A., Blumenthal J.A.. (1999).
Kaplan J: Impact of psychological factors on the pathogenesis of cardiovascular disease and implications for therapy. Circulation., 99: 2192-2197.
Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2014).
Health psychology: Biopsychosocial interactions (ed.ke-7). John Wiley & Sons.
Stuller, K., Jarrett, B. & DeVries, A., (2012).
Stress and social isolation increase vulnerability to stroke. Experimental Neurology
, 233(1), hlm.33-39.
World Health Organization. (2021).
The top 10 causes of death. Diakses pada 7 Oktober 2021, dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/the-top-10-causes-of-death
Weiten, W., Dunn, D. & Hammer, E. (2011).
Psychology applied to modern life: Adjustment in the 21st century. Diakses pada 7 Oktober 2021, dari http://www.centage.co.uk/