Artikel Populer
16/09/2021

Tiada ruang di hati untuk sebuah LUKA

oleh: Dr. Y. B. Cahya Widianto M. Si


“Mengapa sekarang kau inginkan ku lagi
Agar kau toreh luka yang kedua kali?
Tak mungkin kubisa lagi menyayangmu
Sementara sakitnya masih membayangi…”
 
(Tak Bisa Lagi Menyayangimu - ADA BAND)
 

Di atas adalah satu contoh ungkapan tentang luka. Pesan luka yang melumuri banyak lirik lagu lagu beken di sepanjang masa, mengharubirukan semua diri yang sedang galau. Lirik lagu yang macam begitu mudah dihapal dan diresapi banyak orang karena pesan lagu yang dianggap solider bagi hati yang jenuh dengan galau.

Luka, ya luka batin adalah sebutan bagi segala rasa derita karena sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Luka yang tertoreh dalam batin selalu terkait pengalaman tentang liyan dan peristiwa yang terjadi di luar harapannya, di waktu lampau, pun saat ini. Luka tertancap melalui kata, tindakan dan peristiwa tertentu yang ditafsirkan seseorang sebagai yang menyakitkan karena sama sekali di luar harapannya. Umumnya manusia terbiasa memaknakan pengalaman yang sesuai dengan harapan; sebagai berkah karunia yang dirayakan dengan syukur. Sebaliknya pengalaman tentang hal yang tak pernah diharapkan merupakan sesuatu yang menyakitkan, sebuah malapetaka. Lantas, saat mengalami hal yang menyakitkan biasanya mind kita otomatis memproduksi emosi negatif, dihidupi dan meruang dalam pikiran hati. Misalnya rasa marah, sebel, terhina, cemburu, dikhianati dalam dosis yang kronis dikukuhkan sebagai “rumah tinggal” kegelapan, tempat bersemayam segala memori yang menyakitkan.

Luka batin adalah produk dari pilihan respon negatif yang bersumber dari harapan diri. Albert Camus, seorang filsuf pemenang hadiah Nobel Sastra 1957, menyergah bahwa “harapan adalah hari esuk manusia yang tak jelas; harapan adalah konsep tentang yang  seharusnya terjadi menurut diri; harapan adalah imajinasi diri tentang yang semestinya terjadi”. Maka harapan adalah sebuah konsep diri ideal yang melokomosi segala keinginan tentang hal yang baik-baik saja menurut diri. Pada pengertian ini, harapan yang melulu tentang soal kebaikan erat terkait dengan terjadinya luka: harapan yang ada bertangungjawab pada terjadinya banyak luka pada manusia. Kita menjadi luka karena pengkhianatan, karena kita berharap akan kesetiaan; luka karena pelecehan, karena kita berharap untuk dihormati dan dimuliakan; luka karena ditinggalkan karena kita berharap akan kebersamaan abadi, dan seterusnya dan seterusnya. Luka yang tertoreh dalam diri terjadi karena ketegangan antara harapan dan pengalaman diri yang terjadi; semakin tinggi ketegangan antara harapan dan realitas, kerentanan luka menjadi hal yang pasti.

Kekuatan luka melampaui ruang dan waktu. Luka yang terpelihara dalam diri memiliki kekuatan yang bisa muncul kapanpun dan dimanapun. Kesamaan (asosiasi) peristiwa atau pelaku dari luka akan menjadi ventilasi hadirnya pengalaman rasa sakit lampau dalam situasi yang aktual. Mood seseorang bisa saja mendadak buruk karena peristiwa mendung di suatu sore; ia merasa mendung sore itu membawa dirinya dalam situasi saat ia dikhianati orang yang dicintai, sakit penghianatan itu dirasakannya pada suatu sore yang mendung di masa lampau. Atau seorang siswa remaja mendadak lemas ketika ia melihat sampul buku matematika di toko buku; sampul buku matematika itu mengingatkan akan guru matematikanya yang pernah melecehkannya di kelas. Bolehlah contoh tersebut disebut trauma dalam psikologi. Saya sendiri membahasakan contoh kejadian tersebut sebagai kekuatan luka yang lintas ruang dan waktu. Kekuatan luka yang mampu menyabotase cara seseorang melihat realitas; memaksa seseorang melihat masa kini dengan luka masa lalunya.

Luka berdampak buruk bagi segala segi dari hidup manusia. Para ahli psikologi, spiritual, guruji, pendidik, dan bahkan dokter telah sepakat soal identifikasi dampak luka bagi mental, spiritual dan fisik. Seperti diungkapkan Lisa Bourbeau, penulis buku The 5 Wounds That Keep You from Being Yourself, dampak luka batin diantaranya adalah ketakutan kronis, gangguan berpikir dan ekspresi, depresi, gangguan pertumbuhan fisik, imunitas tubuh bahkan jika terlampau dalam luka itu, maka seseorang bisa kehilangan daya hidup, mengakhiri hidupnya dengan tragis. Luka bukan sekadar sebuah peristiwa buruk, namun luka adalah kekuatan pelopor dari banyak masalah dalam kehidupan diri (dan lingkungan) manusia. Banyak sudah kita baca analisis soal pembunuh yang keji yang punya latar belakang luka batin; perang besar yang pernah terjadi karena pemimpin yang penuh luka batin. Dari kisah ini luka punya kontribusi yang signifikan dalam banyak kisah kisah tragis.

Melalui penghayatan soal dampak luka batin, manusia menemukan bahwa maaf adalah solusi alternatif bagi luka batin. Memaafkan didefinisikan para ahli forgiveness sebagai kondisi dimana seseorang tak lagi mengungkapkan tentang rasa sakit karena peristiwa tertentu atau orang lain. Melalui memaafkan kita mengikhlaskan segala hal buruk yang telah terjadi dan tidak lagi memelihara pengaruh persitiwa luka (dan pelakunya). Memaafkan memang jalan keluar yang mulia untuk membebaskan luka batin. Saya sendiri percaya bahwa memaafkan akan menjinakkan kekuatan buruk luka dan memberi kesempatan untuk mentransformasi pengalaman luka menjadi rahmat pendewasaan; menjadi diri yang yakin bahwa selalu ada maaf untuk setiap luka.

Menurut saya dalam soal luka, memperlakukan harapan diri adalah sama pentingnya dengan memaafkan. Di antara segala kekaguman saya pada kekuatan maaf sebagai pembebas luka batin, saya tertarik untuk melihat bagaimana harapan diri terkait dengan kerentanan terjadinya luka. Selama kita berharap secara berlebihan pada sesuatu di luar diri, maka potensi kerentanan luka selalu ada. Jelaslah, bahwa harapan dan kenyataan (di luar diri) adalah dua hal yang tak selalu kompak. Ada dua kontribusi dalam ketidakkompakan tersebut pertama adalah soal kekhasan energi manusia. Tidak ada satupun manusia di planet ini sama sebangun dengan harapan kita. Dia dan mereka adalah eksistensi energi yang khas, memiliki spektrum energi yang unik satu dengan yang lain. Ini menjadi alasan mengapa ekspresi tindakan dia dan mereka tidak selalu selaras dengan harapan diri. Kedua, lingkungan, peristiwa merupakan dinamika yang terhubung dengan ragam spektrum energi dia dan mereka. Tiada kenyataan dan peristiwa yang bersifat tetap di planet ini karena proses dinamis dari unsur manusia dan lainnya; dinamika ini memungkinkan segala ketidakpastian kenyataan yang sangat mungkin berbeda jauh dengan harapan kita.

Cara memperlakukan harapan diri adalah hal yang penting dalam “pencegahan” luka. Bagaimanapun kita hanya bisa mengontrol diri kita sendiri: harapan diri kita. Barangkali harapan adalah hal yang penting dalam hidup manusia. Harapan membuat kita memiliki tujuan hidup. Kita perlu selalu menumbuhkan harapan dalam setiap peristiwa pengalaman, supaya kita dapat membangun inisiatif sebagai pelaku kehidupan. Bagaimana harapan tidak menjadi ruang potensi bagi luka? Cara kita memperlakukan harapan diri adalah penentu bagi kemungkinan luka. Harapan diri mesti ditempatkan dalam bentang ideal yang relatif dan subjektif; harapan bukan “aturan pasti” dan hanya bisa kita berlakukan maksimal pada diri, bukan pada orang lain. Menggelar dan menggulung ruang harapan kita saat berhadapan dengan dunia dan liyan adalah praksis yang saya maksud. Sederhananya, “jangan terlalu berharap pada liyan, jangan terlalu mencintai dunia ini”. Tentu bolehlah kita merasa senang dan bahagia peristiwa dan liyan memberi pengalaman yang sebangun dengan harapan kita, pada sisi lain adalah tidak masalah jika suatu saat liyan dan peristiwa dunia memberi keyataan yang berlawanan dengan harapan kita.

Memperlakukan harapan secara relatif dan fleksibel adalah bentuk laku open minded. Bagaimana menempatkan liyan dan dunia luar sebagai relativitas dalam ruang harapan? Kita perlu menyadari adanya keniscayaan akan keragaman. Bahwa setiap orang adalah spektrum energi yang khas. Khas dengan latar belakang, khas dengan kemampuan, khas dengan cara hidup, khas dengan kelakuan dalam berbagai tingkat. Ada liyan yang mampu menghormati orang lain, ada liyan yang tak paham sama sekali arti menghargai. Ada liyan yang cerdas, tapi ada juga liyan yang hanya sekadar intelek. Tentu semuanya ini mesti dipahami sebagai kebaikan menurut kelas pribadi dan konteks masing-masing.

Laku open minded adalah cara membangun sistem respon yang “melampaui” (beyond). Kata “melampaui” di sini bukan makna arogansi dan meremehkan orang lain, namun lebih sebagai makna tentang model pemahaman mendalam (deep) tentang realitas. Melalui respon yang melampaui, kita tidak larut dalam jebakan peristiwa - perbuatan liyan semata, tetapi kita beranjak pada visi yang lebih mendalam tentang liyan dan persitiwa. Cara pemahaman ini adalah mirip dengan cara memahami kejadian dimana kita ketemu dengan anjing liar yang kelaparan, dan saat kita memberikan makanan justru kita digonggongi atau mungkin malah diserang oleh anjing itu. Sebagai manusia yang memahami kelaparan anjing liar kita tidak akan marah, karena kita tahu kalau anjing liar kemampuannya hanya mengonggong dan mengingigit saja. Mungkin telinga kita bising, atau sepatu kita tergigit anjing liar itu, tetapi kita tak pernah akan merasa sakit, karena kita sejak awal punya fokus untuk menolong (memberi makan) anjing liar itu. Poin penting dalam  pemahaman yang melampaui adalah kita menyediakan ruang perhatian yang lebih tentang peristiwa dan pelakunya saja; kita memerhatikan, memahami tentang apa yang terjadi dan siapa dia yang sesungguhnya. “pencarian” mendalam ini akan memberi interpetasi tentang apa dan siapa secara utuh; tak sekedar apa yang dilakukan atau apa yang terjadi, namun mengapa bisa terjadi. Pemahaman mendalam ini akan memberikan maklum pada diri atas pengalaman yang terjadi. Dan hal terpentingnya adalah, kita akan mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Dari sisi kita tidak pernah akan mengijinkan diri kita terluka.

Cara respon yang “melampaui” membangun banyak kemungkinan hidup yang produktif. Pemahaman tentang liyan dan peristiwa secara mendalam membuat kita bisa memperlakukan harapan diri pada tempat terbaik: tidak memaksakan harapan pada liyan dan persitiwa. Melalui laku respon ini kita akan terbebas dari afeksi negatif. Kita memiliki kesempatan untuk menemukan “permakluman”. Permakluman ini akan membangun ruang relasi diri yang lebih sehat dengan liyan dan segala peristiwanya; kita bisa mencipta kolaborasi, sinergi dan koneksi positif apapun dengan liyan dan peristiwa. Hanya dengan melampaui liyan dan peristiwa maka kita menemukan jalan alternatif untuk menjangkau, menyalurkan kontribusi pada bentuk relasi yang paling mungkin bagi liyan dan peristiwa.

***

Laku respon yang melampaui bukan sama dengan ketidaktegasan dan sikap yang “membiarkan”. Tentu hidup kita tidak diprogram untuk sekadar menyenangnyenangkan orang lain saja; menjadi pramuria all in bagi yang lain. Bukan itu maksud saya. Kita tetap menghidupi prinsip diri, kita tidak pernah menepis harapan diri. Tentu kita akan menjaga diri baik-baik; dengan melakukan komunikasi dan dialog optimal dalam “negosiasi” dengan liyan dan peristiwa. Kita tidak pernah akan memaksakan harapan, prinsip kita pada liyan dan segala peristiwa hidup ini. Memaksakan harapan dan prinsip kita pada orang lain dan dunia selalu menjadi sebuah tragedi sejak awal dan sepanjang masa. Banyak kisah yang menceritakan bagaimana usaha seseorang untuk memaksa, mengendalikan liyan bagi harapan dirinya. Mulai dari  cerita masa lalu, Raja Namrudz (2275-1943 SM) yang membakar Ibrahim, Raja Nero yang memerintah Romawi antara 54 dan 68 M dengan melakukan banyak pembunuhan sistematis, sampai cerita tentang pemerintahan Korea Utara yang banyak melakukan represi pada rakyatnya sampai detik ini. Tentu memaksa liyan sesuai harapan diri bisa menjadi pilihan dan sungguh bisa terjadi, namun selalu ada yang dibayarkan: luka luka. Luka diri dan luka orang lain yang mewujud dalam pertumpahan darah, dan harta peradaban yang terkoyak.

Laku “melampaui” adalah sebuah pilihan pencegahan luka batin, sekaligus adalah jalan spiritual. Cara memahami secara mendalam, melampaui dari sekadar peristiwa dan liyan didasari oleh keyakinan bahwa “semua mahkluk melakukan yang terbaik menurut kelas evolusinya”. Anjing liar yang bisanya mengonggong, ular yang bisanya mengingit, dan masih banyak lagi contohnya. Kita tidak hanya bisa menghakimi anjing dan ular dengan kelakuannya, (apa lagi kepada liyan) lalu kita merasa kecewa dan sakit. Jika kita punya harapan soal kedua contoh mahkluk tersebut, barangkali kita bisa meluangkan perhatian dan waktu untuk berinteraksi dengan mereka (melatih); supaya anjing liar punya kemampuan melakukan gestur terima kasih, atau supaya ular memiliki kemampuan gerakan tarian yang indah. Interaksi inilah yang saya sebut sebagai sebuah negosiasi kepada liyan dan peristiwa sebelumnya. Tentu melakukannya bukan hal yang mudah. Proses ini mungkin akan sangat susah dan tidak ekonomis. Kita perlu belajar dan belajar untuk terbuka dana berdialog selama hayat dikandung badan. Dalam hal ini, kita hanya boleh berharap pada usaha yang maksimal, dan hasil adalah soal yang lain.

Dalam kenyataan kita akan selalu bertemu dengan liyan, dan mahkluk lain yang berkontribusi dalam pengalaman dan peristiwa yang kita tidak menginginkan; dan kita akan tergoda untuk membenci dan mengutuknya. Laku respon yang “melampaui” akan memberi alternatif selain membenci dan mengutukinya. Pemahaman “melampaui” akan membawa kita pada kesadaran eksistensi yang lebih tinggi yaitu kesadaran kosmologis. Bolehkah kita merasa tidak cocok dan tidak suka dengan liyan atau mahkluk tertentu, namun kita tetap harus hormat pada Dia yang menciptakannya. Inilah pengertian dari kesadaran kosmologis.

Tulisan yang saya bagikan ini sama sekali bukanlah sebuah nasehat yang teruji oleh pengalaman pribadi dan bisa dibelakukan pada semua orang. Saya hanya melemparkan ajakan diskusi kepada para pembaca untuk mencoba menimbang soal cara menempuh rute peziarahan di planet ini tanpa jebakan luka luka. Dalam pemahaman saya, sebenernya segala masalah dalam hidup ini adalah bagian kecil dari drama yang diciptakan manusia yang mencoba bereksistensi, tugas selebihnya adalah menapaki setiap jengkal rute peziarahan hidup ini dengan hati yang terbuka; tiada ruang setitikpun untuk sebuah luka.


Keceme,  12 September 2021

  Kembali Arsip