Artikel Populer
19/07/2021

Alam dan Kesehatan Mental

oleh: Dr. Victorius Didik Suryo Hartoko

Jika anda sedang memikirkan sebuah tempat yang hendak anda diami baik dalam jangka panjang (seperti rumah) maupun jangka pendek (sekolah, tempat kerja), anda perlu mempertimbangkan seberapa hijaunya lokasi tempat tinggal tersebut. Apakah di sekitar tempat tersebut terdapat ruang hijau yang cukup luas, baik ruang hijau buatan seperti taman atau ruang hijau alamiah?

Apakah perjalanan dari tempat kerja  ke rumah anda melewati ruang hijau? Atau jika anda hendak menyekolahkan anak anda, apakah sekolah tersebut berada di dekat ruang hijau? Apakah sekolah tersebut memiliki taman dengan pohon-pohonan hijau dan air yang mengalir atau kolam kecil? Bahkan ketika anda mempertimbangkan untuk memilih rumah sakit, apakah dari tempat anda tidur anda dapat menyaksikan alam hijau dari jendela yang terbuka di depan anda? Sekedar peringatan, pertimbangan-pertimbangan itu tidak didasarkan pada feng-shui atau hubungan kita dengan alam gaib, tetapi didasarkan pada kajian mengenai hubungan alam dan kesehatan mental maupun kebugaran kognitif/mental.

Manusia adalah bagian dari alam hijau dan diversitasnya. Ketika peradaban menggeser ruang alam menjadi ruang buatan seperti perubahan cara hidup dari berburu meramu, menjadi pertanian, dan kemudian menjadi kompleks industrial, hubungan manusia dengan sumber kehidupan aslinya menjadi makin renggang. Anak-anak yang tinggal di kota besar dan bersekolah di bangunan-bangunan kokoh buatan manusia, atau para pekerja yang sehari-hari dalam perjalanan ulang alik dari rumah ke tempat kerjanya berhadapan dengan keramaian kota, duduk di depan meja yang menghadap tembok dan bekerja manipulasi objek benda mati atau buruh yang mengoperasikan mesin, mengalami kehilangan sumber daya untuk mengistirahatkan pikirannya dan merestorasi mentalnya. Hubungan dengan alam baik dengan cara tinggal di dalam lingkungan hijau, atau sekedar memperoleh akses untuk menyaksikan alam melalui jendela dalam berbagai penelitian terbukti membantu orang untuk memulihkan diri: menurunkan tingkat stres, menurunkan tingkat kecemasan dan depresi, meningkatkan kemampuan atensi, bahkan menguatkan rasa empati.

Hipotesis-hipotesis hubungan manusia dengan alam

Ada beberapa hipotesis dasar yang dapat digunakan untuk menguraikan bagaimana alam dapat memiliki peran penting bagi kesehatan mental kita. Relasi manusia dengan lingkungan alamiah diantarai oleh proses persepsi. Ketika anda melihat sesuatu anda tidak sekedar mencatat dan mengklasifikasikannya berdasarkan himpunan pengetahuan yang anda kumpulkan secara sadar ataupun tak sadar. Tetapi lebih dari itu, anda memasuki dunia perseptual tersebut, hidup di dalamnya dan ber-reaksi terhadapnya. Itu gambaran ringkasnya, detailnya ada di bawah ini.

Hipotesis dasar pertama adalah terkait proses perspesi. Teori persepsi klasik, pemrosesan informasi mengasumsikan proses persepsi sebagai proses kognitif yang memproduksi konstruksi mental tentang realitas. Di dalam model ini energi fisik dari dunia luar membangkitkan suatu representasi mental internal yang tidak memuat hubungan inheren dengan stimulus aslinya (lihat, Clayton & Meyers, 2009/2014). Model formal ini menempatkan subjek sebagai pengamat pasif lingkungan dan mengabaikan sifat holistik dan relasional dari sensasi dan persepsi. Teori persepsi yang lebih dekat dengan pembahasan mengenai hubungan manusia dengan alam adalah teori affordance dari Gibson. Sayangnya pendekatan Gibson ini hanya mendapatkan tempat yang minor dalam kurikulum psikologi. Dalam perspektif teori affordance (dalam Chong dan Proctor, 2020) mempersepsi merupakan aktivitas mengeksplorasi. Ketika anda melihat lingkungan hijau, anda sedang mengeksplorasinya. Persepsi merupakan bagian dari tindakan. Di dalam teori affordance, ciri-ciri lingkungan alam yang kita tangkap dari proses perseptual kita memiliki kehadiran objektif sekaligus menghadirkan signifikansi fungsional yang dirasakan terkait objek, kejadian, atau tempat bagi individu. Sederhananya begini, ketika anda melihat senjata, senjata itu tidak sekedar kita klasifikasikan dalam pikiran kita, tetapi senjata itu menggerakkan pikiran dan batin kita untuk berbuat. Ketika anda melihat alam hijau anda sekaligus mengalami hadir di dalamnya, menggerakkan perasaan tertentu atau mengkoherensikan perasaan tertentu. Makna bukan lagi persoalan kognitif belaka, tetapi persoalan afektif dan konatif.

                                                             Sumber gambar dari https://www.boredpanda.com

Hipotesis kedua adalah teori biofilia dari Wilson (1984). Perhatian dan afiliasi dengan alam memberikan nilai adaptif bagi keberlangsungan hidup manusia. Manusia cenderung menyukai lanskap yang mendukung daya hidupnya. Studi yang dilakukan Han (2003) menunjukkan ada tiga kualitas lanskap yang dipandang memiliki sifat restoratif atau menyegarkan pikiran dan mental kita, yaitu: lingkungan alam yang memiliki lanskap terbuka dengan beberapa bagian menunjukkan adanya vegetasi alamiah (terbuka), lingkungan alam yang kompleks dengan variasi objek alam (kompleksitas), dan ketersediaan air. Ciri-ciri lanskap alamiah seperti itu membantu manusia untuk memperoleh sumber daya alam (tumbuhan dan air), mengeksplorasi lingkungan (lanskap terbuka), dan menyediakan tempat perlindungan dari predator (adanya vegetasi alam di sela-sela ruang terbuka). Manusia mengevaluasi lanskap berdasarkan seberapa baik lanskap tersebut memenuhi kebutuhan akan alam maupun kebutuhan untuk mengeksplorasi realitas. Lanskap alamiah semacam itu mengaktifkan rasa aman dan sekaligus rasa terbuka yang memiliki peran penting bagi kesehatan mental kita.

Hipotesis ketiga adalah teori pemulihan atensi atau Attention Restoration Theory (ART) dari Kaplan (1995). Hipotesis ketiga ini dapat dipandang sebagai kelanjutan dari hipotesis kedua. Dalam tugas sehari-hari, manusia menggunakan sumber daya kognitifnya untuk mengarahkan perhatian pada objek dan tugas tertentu, menghindari pengalihan perhatian dengan cara menekan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang tidak sesuai dengan tugas yang dihadapi.  Penggunaan proses mental yang atentif terus menerus berpotensi untuk menguras sumber daya kita. Kompleksitas kehidupan sehari-hari yang dihadapi orang modern menguras sumber daya yang terbatas. Lingkungan alam memungkinkan manusia untuk merestorasi sumber daya mentalnya. Beberapa karakteristik penting yang bersifat resoratif antara lain: jauh dari aktivitas dan tuntutan tugas sehari-hari, memberikan kepuasan, sanggup menarik perhatian hampir tanpa upaya yang mengharuskan orang untuk berkonsentrasi, memiliki kedalaman yang memungkinkan eksplorasi dan cocok dengan tujuan individu (Clyton & Myers, 2009/ 2014). Itulah sebabnya orang merasa segar ketika bepergian ke tempat-tempat yang dipenuhi dengan vegetasi hijau.


Contoh hasil-hasil studi pendukung

Ada banyak penelitian yang mendukung hipotesis-hipotesis di atas, namun karena keterbatasan ruang, saya hanya akan menunjukkan beberapa contoh penelitian yang menarik yang menunjukkan bagaimana lingkungan alam dapat membantu memulihkan sumber daya kognitif kita maupun memperkuat kesehatan mental kita.  Orang normal yang berjalan di lingkungan hijau atau bahkan sekedar melihat pemandangan hijau mengalami peningkatan kemampuan mengingat jangka pendek lebih baik ketimbang mereka yang berjalan di dalam lingkungan perkotaan (Berman, Jonides & Kaplan. 2008). Para penderita depresi yang diajak berjalan-jalan di antara lingkungan hijau alamiah menunjukkan peningkatan mood positifnya dan rentang memori jangka pendeknya (yang artinya orang tersebut akan dapat mengolah informasi dengan lebih baik) dibanding penderita depresi yang berjalan-jalan di tengah lingkungan perkotaan (Berman, et al. 2012). Berpindah rumah dari lingkungan dengan tingkat kehijauan rendah ke tempat dengan tingkat kehijauan tinggi terbukti berefek positif pada kesehatan mental secara umum (Alcock, et al. 2014).

Bentuk relasi dengan alam yang lebih aktif adalah berkebun. Kajian meta-analisis terhadap 10 artikel yang berisi laporan penelitian menunjukkan efek positif dari berkebun (Clatworthy, Hinds, & Camic. 2013). Berkebun dapat mengurangi gejala depresi dan kecemasan dalam ukuran objektif. Para peserta intervensi berkebun mengaku merasakan efek positif pada berbagai segi kehidupan: emosi, sosial, fisik, spiritual dan bahkan meningkatkan kemampuan vokasionalnya. Sebuah review literatur sistematik meperlihatkan efek positif melakukan aktivitas berolahraga di tengah lingkungan hijau (Coon, et.al. 2011). Dibandingkan peserta aktivitas olahraga di dalam ruang, peserta yang beraktivitas di dalam lingkungan alamiah mengalami perasaan revitalisasi dan keterlibatan positif yang lebih baik. Mereka juga mengalami penurunan ketegangan, kebingungan, perasaan amarah, dan depresi serta peningkatan energi yang lebih tinggi.


Apa yang dapat kita lakukan dan tindak lanjutnya

Daftar hasil penelitian dapat diperpanjang, namun saya kira gambaran di atas dapat meyakinkan kita untuk mulai memanfaatkan lingkungan alamiah di dekat rumah kita. Berjalan-jalan secara teratur di lingkungan pedesaan yang asri dapat mulai kita lakukan. Mungkin anda mulai dapat mempertimbangkan untuk menanam pohon di sekeliling rumah anda, tentu saja dengan menambahkan jendela yang menghadap pada lingkungan hijau tersebut. Anda dapat mengajak anak anda bermain-main di taman atau berolahraga. Ini hal-hal yang dapat kita lakukan secara pribadi maupun dalam keluarga.

Dalam lingkungan ketetanggaan mungkin dapat dirancang semacam kegiatan bersama untuk menghadirkan taman di dalam lingkungan tempat tinggal kita, atau memelihara taman yang sudah ada dan melengkapinya dengan kolam atau aliran air yang bergemericik. Dalam lingkungan yang lebih luas anda dapat mengadvokasi kehadiran ruang hijau di tengah kota. Atau secara lebih konkret menciptakan kebun di dalam kota, mendukung program penghijauan, memilih walikota atau bupati yang menunjukkan kepedulian terhadap ruang hijau. Akses ruang hijau bukan lagi sekedar persoalan keindahan tetapi persoalan kesehatan mental.

Perluasan akses ruang hijau dapat menjadi bagian dari agenda keadilan sosial. Harga tanah yang mahal di tengah kota, tidak memungkinkan orang miskin untuk menciptakan taman di rumahnya, satu-satunya yang mungkin dilakukan adalah menciptakan ruang hijau di atas tanah publik. Advokasi pada ruang hijau sama artinya menciptakan akses pada kesehatan mental bagi penduduk miskin yang mengalami banyak tekanan kehidupan.


Kepustakaan:
Alcock, I., White, M., Wheeler, B., Fleming, L., & Delpege, M. (2014). Longitudinal Effects on Mental Health of Moving to Greener and Less Green Urban Areas. Environ. Sci. Technol. 2014, 48, 1247−1255, dx.doi.org/10.1021/es403688w

Berman, M.G., Jonides, J., & Kaplan, S. (2008). The Cognitive Benefits of Interacting With Nature. Psychological science. 19 (12), 1207-1212

Berman, M.G., et al., (2012). Interacting with nature improves cognition and affect
for individuals with depression, J. Affect. Disord., dx.doi.org/10.1016/j.jad.2012.03.012

Chong, I., & Proctor, R.W. (2020). On the Evolution of a Radical Concept: Affordance According to Gibson and Their Subsequent Use and Development. Perspectives on Psychological Science. Vol 15 (1), 117-132. dx.doi.org/10.1177/1745691619868207

Clatworthy, J., Hinds, J., & Camic, P.M. (2013). Gardening as a mental health intervention: a review. Mental Health Review Journal. Vol. 18 (4), 214-225. dx.doi.org/10.1108/MHRJ-02-2013-0007

Clayton, S. & Myers, G. (2009/ 2014). Psikologi Konservasi, Memahami dan Meningkatkan kepedulian Manusia terhadap Alam. Penerjemah daryatno. Pustaka Pelajar

Coon, J.T., Boddy, K., Stein, K., Whear, R., Barton, J., & Depledge, M.H. (2011). Does Participating in Physical Activity in Outdoor Natural Environments Have a Greater Effect on Physical and Mental Wellbeing than Physical Activity Indoors? A Systematic Review. Environ. Sci. Technol. 45(5), 1761-1772. dx.doi.org/10.1021/es102947t

Han, Ke-tsung. (2003). A Reliable And Valid Self-Rating Measure Of The Restorative Quality Of Natural Environments. Landscape and Urban Planning, 64, 209–232.

Kaplan, S. (1995). The Restorative Benefits of Nature: Toward an Integrative Fremework. Journal of Environmental Psychology. 15, 169-182.

Wilson, E. O. (1984). Biophilia, The Human Bond with Other Species. Harvard University Press

  Kembali Arsip