Artikel Populer
11/01/2021

Cerita Sehari-hari sebagai Wadah Pengembangan Kemampuan Memahami Diri dan Orang Lain

oleh: Dr. Victorius Didik Suryo Hartoko

Ketika orang membicarakan persoalan pendidikan orang membayangkan bangunan sekolah, buku tulis dan anak usia tujuh hingga belasan tahun. Orang seringkali melupakan bahwa perkembangan kemampuan untuk berpikir (dan merasakan) sudah dimulai semenjak usia satu tahun dan mengalami perkembangan mendasar pada usia empat tahun. Mungkin ini karena harapan orangtua tentang anak lebih cenderung berpusat pada kesuksesan untuk bersekolah dan bekerja, dan bukan kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan. Orang Jawa jaman dulu menggunakan istilah rasa untuk menggambarkan kemampuan tersebut. Orang disebut sebagai orang dewasa jika ia mulai mampu memahami rasa orang lain. Kehidupan sehari-hari di dalam keluarga dijadikan sarana untuk mengolah perasaan. Jaman sudah berubah. Keunggulan seseorang sekarang tidak lagi terletak pada kemampuan untuk merasakan namun pada kemampuan untuk menguasai harta milik. Orang menjadi terkaget-kaget ketika mendapati kasus kejahatan yang ekstrem, yang dilakukan oleh remaja. Bagaimana mungkin orang dapat menjadi kehilangan perasaan belas kasihan pada orang lain.

Dalam situasi yang penuh tekanan akibat kebutuhan hidup, orang tua lebih suka memberi nasehat dan membuat aturan ketika anaknya berbuat ulah ketimbang meluangkan waktu untuk mendengarkan pikiran dan perasaan anak. Orang tua juga kurang meluangkan waktu bersama anak untuk berbagi cerita, padahal anak belajar merasakan kebutuhan, keinginan, perasaan dan pikiran orang lain melalui percakapan sehari-hari dan melalui cerita.

Memahami Diri dan Orang Lain

Bentuk dasar kemampuan berhubungan sosial dan rasa kemanusiaan adalah kemampuan mengalami orang lain sebagai manusia. Ketika manusia melakukan suatu tindakan, ia memiliki tujuan atau maksud tertentu. Misalnya orang menyapu lantai karena ia menginginkan lantai rumahnya menjadi bersih. Perbuatan dan tindakan orang juga ditentukan oleh bagaimana perasaan dan pikiran atau keyakinannya mengenai suatu hal. Misalnya, seseorang menghindari temannya karena ia merasa malu atau takut bertemu dengannya. Seseorang takut terhadap orang asing karena ia berpikir atau berkeyakinan bahwa orang tersebut akan menyakitinya. Untuk memahami orang lain, seseorang memerlukan pengetahuan tentang apa yang diinginkan, dipikirkan dan dirasakan orang lain. Orang tidak dapat memahami orang lain hanya dengan memperhatikan perbuatan atau tindakannya. Seorang bapak tidak dapat memahami anaknya hanya dari laporan kelakuan anaknya di sekolah, tetapi untuk memahaminya ia juga harus mengetahui mengapa anaknya berbuat seperti itu.

Ilustrasi di atas memperlihatkan minimal adanya dua aspek pokok dari memahami diri sendiri dan orang lain, yaitu memahami tujuan tindakan orang dan memahami bagaimana persepsi dan perasaan seseorang dapat menentukan bentuk tindakannya. Kedua aspek pokok itu dikenal dengan istilah “theory of mind” (Wellman, 2014). Ketika seseorang berusaha memahami orang lain, ia mendasarkan diri pada asumsi-asumsi tertentu. Nah asumsi-asumsi itu adalah teori tersebut. Ada dua asumsi dasar yang digunakan oleh orang untuk memahami yang lain, yaitu pertama, bahwa orang melakukan sesuatu karena memiliki tujuan tertentu, dan kedua perbuatan atau tindakan seseorang dipengaruhi oleh apa yang ia ketahui dan yang ia rasakan. Kedua asumsi itu berkembang secara bertahap dalam kehidupan manusia. Perkembangan awal adalah memahami tujuan tindakan, kemudian disusul oleh pemahaman bahwa pikiran dan perasaan seseorang adalah dasar dari perbuatan atau tindakan.

1. Kemampuan memahami tindakan bertujuan

Kemampuan dasar berempati mulai dibentuk pada usia awal kehidupan, kira-kira usia 9 hingga 12 bulan.  Setelah usia tersebut, seorang anak mulai menunjukkan ketertarikan terhadap perbuatan-perbuatan orang di sekitarnya. Ia lebih banyak memperhatikan wajah dan tindakan orang ketimbang memperhatikan benda-benda. Seorang anak pada usia tersebut mulai mampu berhubungan dengan orang lain melalui tatapan mata. Ia mampu mengikuti arah gerakan mata orang dewasa. Ketika orang dewasa tampak mengarahkan perhatiannya pada suatu objek, anak akan melirik ke arah benda tersebut. Ia tertarik pada apa yang menarik perhatian orang dewasa.

Seorang anak usia tersebut juga tertarik memperhatikan apa yang dikerjakan oleh orang dewasa. Ia memperhatikan perbuatan dan hasil dari perbuatan tersebut. Anak mulai mengerti bahwa apa yang dilakukan oleh orang dewasa memiliki maksud atau tujuan tertentu. Pada usia dua atau tiga tahun ketika ia mulai dapat berdiri dan berjalan serta berbicara, ia mulai menirukan perbuatan-perbuatan orang dewasa. Ia tidak sekadar meniru, tetapi juga mengetahui maksud tujuannya. Ketika setiap hari melihat ibunya memasak, seorang anak dengan mudah dapat mengetahui apa yang akan dilakukan ibunya ketika ibunya membawa sayuran dan pisau dapur. Ketika menjumpai tindakan yang tidak diketahui maksudnya, ia dapat bertanya apa yang akan dilakukan oleh orang dewasa.

Kemampuan untuk mengetahui apa yang menarik perhatian orang dewasa, memahami maksud atau tujuan dari suatu tindakan serta menirukan perbuatan orang dewasa, merupakan dasar dari proses belajar di kemudian hari (Tomasello, 2000). Tidak mengherankan ketika si anak mulai bersekolah, seringkali ia menjadi malas untuk belajar ketika ia tidak memahami apa maksudnya ia harus mempelajari hal-hal tertentu. Kebudayaan manusia juga berkembang dengan dasar pembelajaran seperti itu. Seorang calon dalang belajar mendalang dengan memperhatikan detail perbuatan pak dalang dan memahami tujuan-tujuan tindakan pak dalang tersebut.
 
2. Kemampuan memahami perasaan dan pikiran sebagai asal-usul tindakan

Pada usia 4 hingga 5 tahun, pemahaman anak mengenai tindakan orang lain menjadi lebih maju. Ia mulai memahami penyebab dari tindakan, yaitu pikiran atau perasaan seseorang. Mereka juga mengetahui bahwa apa yang dipikirkan atau diyakini seseorang adalah hasil dari persepsi seseorang tentang kenyataan. Bagaimana anak berpikir tentang tindakan dapat digambarkan sebagai  berikut (Wellman, 2014):

Seorang anak usia empat tahun atau lebih dapat menjawab pertanyaan berikut ini: “suatu hari Budi mendapat hadiah mobil-mobilan dari kakeknya. Ia masuk ke dalam kamar dan menyimpan mobil-mobilannya di dalam rak buku. Lalu ia keluar kamar. Tanpa sepengetahuannya, Amir kakak lelakinya masuk ke dalam kamar dan memindahkan mobil-mobilannya ke dalam almari pakaian. Ketika Budi ingin bermain mobil-mobilan, ia masuk kamar dan hendak mengambil mobil-mobilannya. Di manakah ia akan mencari mobil-mobilannya? A. Di dalam rak buku atau B. Di dalam almari pakaian.”

Seorang anak usia 4 tahun maupun orang dewasa dapat menjawab dengan benar, dengan memilih pilihan A (dalam rak buku) karena itu tempat terakhir si Budi menyimpan mobil-mobilan. Anak di bawah usia empat tahun umumnya akan memilih jawaban B (di dalam almari pakaian). Anak usia empat tahun dapat mengetahui bahwa orang bertindak menurut keyakinannya (meskipun keyakinan itu salah). Ia mengetahui bahwa keyakinan si Budi dibentuk oleh persepsi si Budi itu sendiri dan bukan oleh kenyataan.

Pada usia dewasa, keterampilan berpikir seperti di atas akan banyak membantu seseorang untuk memahami perbuatan-perbuatan orang lain. Orang dapat bertindak keliru karena keyakinan atau pengetahuannya yang keliru.

 
Bercerita dan bercakap-cakap

Keterampilan memahami tindakan orang lain seperti yang digambarkan di atas bukanlah ketrampilan yang sekali jadi, tetapi memerlukan latihan dan pengolahan. Orang dewasa dapat membantu anak untuk merangsang dan menguatkan kemampuan tersebut melalui percakapan sehari-hari atau melalui cerita. Ketika seorang anak mengalami kejadian yang tidak menyenangkan orang dewasa dapat bertanya apa yang dirasakan. Ia juga dapat membantu mengaitkan perasaan tersebut dengan kejadian yang dialaminya dengan bertanya apakah karena ia mengalami kejadian x ia merasakan y. Ketika seorang anak melakukan tindakan tertentu, orang dewasa dapat bertanya apa yang diinginkan atau dipikirkannya. Tentu saja proses tanya jawab itu dapat terjadi ketika si orang dewasa dapat bersikap tenang menghadapi perbuatan si anak. Orang dewasa yang lebih bersikap emosional atau sedang mengalami kesesakan urusan akan cenderung terburu-buru hendak menyelesaikan persoalan tanpa mengetahui akar persoalannya (Cooper dan Redfern, 2016).



                                                                Sumber gambar: https://stock.adobe.com

Selain menanggapi anak dengan rasa ingin tahu, pendampingan pada anak usia pra sekolah dapat dilakukan dengan bercerita. Sebuah cerita umumnya berisi dua hal. Pertama cerita menggambarkan perbuatan-perbuatan tokoh-tokoh yang terlibat di dalam cerita (dunia perbuatan). Kedua cerita menggambarkan apa yang dipikirkan dan dirasakan tokoh-tokoh di dalam cerita (dunia kesadaran) (Bruner, 1986). Cerita yang disukai anak-anak kecil umumnya lebih banyak menggambarkan dunia perbuatan, sedang anak-anak usia yang lebih besar (remaja) lebih menyukai cerita yang menggambarkan dunia kesadaran (Wellman, 2014). Dunia perbuatan seperti yang diceritakan di awal tumbuh berkembang lebih awal (mulai dari usia satu tahun), sedangkan dunia kesadaran mulai berkembang semenjak usia empat tahun. Cerita yang didengarkan anak-anak dapat membantu anak untuk menata pengalaman dan perasaannya, selain membantu memberikan kosa kata yang akan membantunya untuk memikirkan maksud perbuatan orang lain maupun memikirkan perasaan dan pikiran di balik perbuatan orang lain. Mendengarkan cerita membantu perkembangan kemampuan anak bercerita sekaligus kemampuan untuk memahami perbuatan orang lain.

 
Penutup

Menguatkan pemahaman anak-anak terhadap unsur tujuan dari suatu tindakan maupun pengaruh keyakinan dan perasaan terhadap suatu perbuatan, merupakan usaha yang penting untuk membantu anak memahami dunia manusia. Ini bukan saja merupakan tanggung jawab orang tua atau guru pendamping tetapi juga tanggung jawab semua orang dewasa. Bagaimana bentuk masyarakat di kemudian hari akan banyak tergantung pada kemampuan anak-anak sekarang memahami dunia manusia.

  Kembali Arsip