Artikel Populer
30/11/2020
Daya Magnetis Diri
oleh: Dr. T. Priyo W. M. Si
Dalam kehidupan, dengan mudah dapat ditemukan sosok pribadi yang memiliki daya tarik kuat sehingga memiliki banyak follower. Segala cuitan darinya akan diamini oleh para followernya. Pribadi semacam itu dapat ditemukan dalam bidang keagamaan, politik, bisnis, keilmuan, kehidupan sosial, dan sisi-sisi kehidupan lainnya.
Dalam kehidupan keagamaan bisa ditemukan tokoh-tokoh besar keagamaan, baik tingkat internasional, nasional, maupun kedaerahan. Dalam bidang politik pun bisa ditemukan tokoh-tokoh seperti Soekarno, dan Soeharto. Dalam bidang bisnis bisa ditemukan pribadi-pribadi yang memiliki kemampuan usaha yang tiada tandingannya. Dalam bidang keilmuan banyak tokoh yang mewakili ilmu tertentu dikenal dan ilmunya dijadikan rujukan oleh banyak orang, baik di tingkat internasional maupuan nasional. Dalam kehidupan sosial muncul Nikita, wanita muda yang mengharu biru kancah kehidupan masyarakat, yang dalam waktu kurang dari satu minggu dirinya mendapat keuntungan finansial sebanyak setengah milyar rupiah dari viralnya kabar yang berkaitan dengan kegiatannya.
Semua orang punya daya tarik sesuai dengan porsinya. Daya tarik ini tidak datang secara tiba-tiba. Ia memerlukan proses panjang untuk terinternalisasi dalam diri seseorang. Prosesnya sebenarnya seperti hukum fisika. Sepotong besi akan memiliki daya tarik magnetis ketika besi tersebut digosok searah berulang kali. Semakin lama menggosoknya daya tarik magnetis di dalam besi tersebut akan semakin kuat dan awet. Begitu juga pada manusia, hanya prosesnya perlu lebih lama dengan konsistensi yang tinggi.
Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan agar seseorang memiliki daya tarik dalam perjalanan hidupnya sehingga bisa menyedot perhatian orang lain adalah sebagai berikut:
1. Masa kanak-kanak.
Pada masa awal perkembangan (usia paud, taman kanak-kanak, dan sekolah dasar), anak masih belum memahami dirinya. Kesukaannya atau ketertarikannya terhadap sesuatu masih sangat labil, belum konsisten, masih berubah-ubah. Akan tetapi, pada masa ini orang tua sudah perlu memberikan fasilitas bermain yang mendukung ketertarikan anak. Bagi anak yang suka menyanyi atau main musik, berilah anak mainan yang ada hubungannya dengan musik. Begitu juga dengan anak yang suka bermain angka, dukunglah dia agar tumbuh kecintaannya pada angka. Sangat mungkin orang tua perlu memberikan stimulus mainan tertentu pada anak agar embrio potensi mulai muncul.
2. Masa remaja.
Masa yang masih sangat labil, namun embrio potensi di dalam dirinya sudah mulai nampak muncul ke permukaan. Bila anak merasa punya kemampuan dan tertarik mewujudkan maka dia akan berusaha sekeras mungkin mewujudkan ketertarikannya tersebut. Seringkali remaja merasa punya banyak kemampuan dan ingin segera mewujudkannya. Secara emosional, semangatnya menggebu-gebu. Di sinilah peran orang tua untuk secara bertahap membantu remaja menyeleksi potensi-potensi dirinya yang perlu diasah sehingga remaja bisa semakin fokus mengasah potensinya agar semakin cemerlang dan memiliki kemampuan magnetis untuk menarik orang lain.
3. Masa Pasca Remaja
Masa ini merupakan masa mengasah potensi diri harus sudah semakin mantap. Oleh karena itu, potensi apa yang akan diasah secara bertahap harus sudah dipilih dan diasah berlandaskan passion diri. Diasah secara bertahap, terus-menerus, searah, dan konsisten. Potensi diri yang diasah tersebut bisa merupakan potensi diri perwujudan dari aspek kognitif, afektif, spiritual, sosial, dan psikomotorik. Potensi diri yang muncul bisa merupakan perwujudan dari seluruh aspek dirinya, misalnya potensi kepemimpinan. Seseorang yang ingin kepemimpinannya punya daya magnetis, ia harus mengasah semua aspek yang ada dalam dirinya yang mendukung keinginannya menjadi seorang pemimpin. Hal ini berbeda dengan seseorang yang bercita-cita ingin menjadi matematikawan. Sebagai seorang matematikawan, cukuplah kalau dia mengasah kemampuan matematikanya secara optimal yang masuk dalam aspek kognitif, aspek yang lain tetap penting, namun tidak perlu menjadi fokus utama.
Seseorang bisa memiliki daya magnetis dalam satu aspek dirinya, misalnya kognitif, namun seseorang juga bisa memiliki daya magnetis dalam semua aspek diri orang tersebut. Seseorang yang berdaya tarik sebagai seorang pemimpin tentu harus didukung oleh semua aspek dalam diri orang tersebut seoptimal mungkin.
Dalam perjalanan hidup seseorang, daya magnetis ini juga ada masanya. Seseorang mungkin punya daya magnetis sebagai seorang penyanyi ketika muda, namun ketika tua daya magnetis dari kemampuannya menyanyi bisa menurun bahkan hilang karena dukungan psikomotoriknya yang sudah mulai melemah. Apakah orang tersebut akan kehilangan daya tariknya? Tentu saja dia akan kehilangan daya tariknya sebagai penyanyi, namun dia bisa mengalihkan daya tariknya dalam aspek yang lain, misalnya setelah tua ia lebih mengasah pada aspek spiritualnya secara optimal. Ketika tua seseorang tetap berdaya tarik dalam kearifan dan kebijaksanaan hidupnya, bukan lagi sebagai seorang penyanyi.
Seseorang yang mampu mengasah kekuatan magnetis secara luar biasa dalam salah satu aspek diri atau semua aspek diri bisa tetap memiliki kemampuan magnetis hebat meski dirinya sudah meninggal. Orang yang punya daya magnetis semacam itu misalnya Soekarno dan Gus Dur, tentu masih banyak tokoh-tokoh yang punya daya magnetis hebat meski dirinya sudah meninggal dunia. Ingin punya daya magnetis diri sehingga punya kekuatan magnetis serta memiliki follower banyak, asalah aspek-aspek dalam diri kita searah, berkesinambungan, dan konsisten. *
-pw-
Kembali
Arsip