1. Kesadaran akan keterhubungan dengan orang lain
Begitu saraf dan otot penglihatan menguat di sekitar usia 3 bulan, bayi mulai mengamati wajah dan ekspresi orang dewasa. Bayi lahir dengan kecenderungan untuk tertarik pada manusia dibandingkan stimulus yang lain. Bayi juga lebih menyukai wajah dan suara ibunya sendiri dibandingkan orang lain. Umumnya, orang tua berusaha menarik minat bayi dengan menunjukkan ekspresi wajah atau suara nyanyian yang atraktif. Usaha ini biasanya tidak sia-sia. Bayi semakin menyukai aktifitas berkontak dengan orang tua. Pada tahap ini bayi menyadari adanya keterhubungan dengan orang lain terutama ibu.
2. Pra Bicara dan Interaksi timbal balik
Di usia 4-5 bulan bayi mulai mengamati gerakan mulut orang dewasa dan menggerakkan bibir dan lidah mereka seolah berusaha menirukan. Bayi juga mulai mengeluarkan suara-suara (cooing) dan menunjukkan senyum sosial untuk menanggapi orang lain. Senyuman, suara-suara, gerakan mulut, atau sekedar tatapan dan tangisan menandai masa pra-bicara. Berbagai ekspresi bayi tersebut biasanya ditanggapi orang tua dengan segera, maka pada tahap ini bayi dapat menyadari adanya interaksi timbal balik. Bayi juga menyadari bahwa gerakan atau suaranya dapat mempengaruhi tindakan orang lain.
3. Mengoceh dan mengenal pola percakapan
Di usia sekitar 6 bulan bayi mulai mengoceh (babling). Ocehan bayi sering ditanggapi orang tua seolah saling berbalas bicara. Walaupun seringkali hanya dianggap permainan atau lelucon bagi orang tua, tetapi kegiatan saling berbalas bicara ini mampu membuat bayi belajar mengenai pola timbal balik (turn-taking) dalam percakapan.
4. Motivasi berbahasa dan kemunculan bicara
Anak usia 9 bulan belajar bahwa dengan komunikasi ia dapat memperoleh apa yang diinginkannya. Pada tahap ini muncul motivasi pada anak untuk menggunakan bahasa. Anak mulai melakukan komunikasi walaupun bentuknya masih berupa isyarat non verbal. Anak menunjuk objek yang diingankan, merentangkan tangan untuk minta digendong atau mendorong jauh hal yang tidak disukainya. Keberadaan objek-objek dan aktifitas sehari-hari menjadi informasi kontekstual yang sangat berguna bagi anak mengenal berbagai kata berikut penggunaannya. Banyak ahli bersepakat bahwa pada usia sembilan bulan terjadi perkembangan komunikasi yang signifikan. Kata-kata yang dipahami anak cukup banyak sebelum akhirnya ia dapat menyebutkannya sendiri. Pada usia sekitar 1 tahun anak mengucapkan kata pertamanya.
Pemahaman mengenai perkembangan awal bicara memberikan petunjuk mengenai upaya-upaya yang dapat dilakukan orang tua untuk mendorong kemunculan bicara pada anak-anak. Pertama, penting bagi orang tua untuk membangun kontak atau interaksi timbal balik sejak dini di masa bayi. Kedua, orang tua dapat menggunakan keberadaan objek-objek di sekitar dan mendorong perhatian visual bayi untuk mengenalkan kata-kata yang biasa digunakan sehari-hari. Selain itu, melibatkan anak dalam aktifitas sehari-hari, terutama bermain, akan sangat membantu anak dalam memahami penggunaan kata-kata sesuai dengan konteks situasi.
Jika upaya-upaya telah dilakukan dan anak masih mengalami kesulitan dalam menghasilkan bicara yang tepat di usia 4 tahun, maka hal ini dapat saja terkait dengan beberapa gangguan neurodevelopmental. Gangguan neurodevelopmental yang berkaitan dengan bicara meliputi gangguan bahasa, gangguan suara atau artikulasi bicara, stuttering atau yang biasa disebut sebagai gagap, gangguan komunikasi sosial (pragmatic), dan dapat pula merupakan gejala dari autisme.
Sumber Pustaka :
Carta, J.J. (2018) Effects of Parenting on Young Children’s Language and Communication. In Sanders M.R. & Morawska. A. Handbook of Parenting & Child Development Across the Lifespan. Springer.
Dockrell, J. & Messer, D. (1999) Children's Language and Communication Difficulties. Understnading, Identification and Intervention.NY: Cassell.
Santrock, J.W. (2011) Child Development. 13th edition. NW:McGraw-Hill.