AKTUALITA

Bertumbuh dalam Keluarga, Berbuah dalam Pelayanan Seturut Teladan Santa Anna

Di tengah derasnya arus kehidupan modern, keluarga sering kali menjadi tempat yang paling dirindukan sekaligus paling mudah kehilangan ruang untuk saling mendengarkan. Kesibukan pekerjaan, padatnya aktivitas, dan kehadiran gawai yang hampir tidak pernah lepas dari genggaman perlahan mengurangi kesempatan anggota keluarga untuk berdoa bersama, berbincang dari hati ke hati, dan mewariskan iman kepada generasi berikutnya. Berangkat dari kenyataan itulah umat Lingkungan Santa Anna, Paroki Santo Yusup Bintaran Yogyakarta, berkumpul dalam rekoleksi yang diselenggarakan pada Sabtu–Minggu, 25–26 Juli 2026, di D'Emmerick Hotel, Kopeng, Salatiga. Rekoleksi ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, merefleksikan kembali makna keluarga Kristiani, dan memperbarui komitmen hidup beriman bersama.

Kegiatan yang dipandu oleh Rama Agus Widodo, Pr., dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Mandiri sebagai wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui dua sesi pembinaan, peserta diajak mendalami tema "Belajar dari Santa Anna: Menghayati Panggilan sebagai Orang Katolik yang Bahagia dan Terlibat Aktif di Lingkungan" dan "Menjadikan Keluarga sebagai Ecclesia Domestica di Era Digital". Kedua tema tersebut saling melengkapi: yang pertama menunjukkan bagaimana keteladanan Santa Anna dapat menjadi inspirasi dalam membangun keluarga yang berakar pada iman, harapan, dan kasih, sedangkan yang kedua mengajak peserta melihat keluarga sebagai Gereja rumah tangga.


Rekoleksi diawali dengan refleksi mengenai keteladanan Santa Anna, yang oleh tradisi Gereja dihormati sebagai ibu Santa Perawan Maria. Meskipun Kitab Suci tidak banyak mengisahkan kehidupannya, tradisi Gereja mengenang Santa Anna sebagai sosok yang tekun berdoa, setia kepada Allah, dan berperan penting dalam mewariskan iman kepada putrinya, Maria, sehingga dipersiapkan untuk mengambil bagian dalam sejarah keselamatan. Melalui keteladanan tersebut, peserta diajak menyadari bahwa keluarga merupakan tempat pertama pewarisan iman dan sekolah kehidupan Kristiani. Keteladanan itu mengajak peserta melihat bahwa pendidikan iman tidak terutama dimulai dari ruang kelas atau program pastoral, melainkan dari kesaksian hidup orang tua dan keluarga. Dalam suasana rekoleksi yang hangat, peserta saling berbagi pengalaman mengenai tantangan membangun komunikasi dalam keluarga, mendampingi anak-anak di tengah budaya digital, dan tetap terlibat aktif dalam kehidupan lingkungan sebagai perwujudan iman yang hidup.

Pendalaman kemudian berlanjut pada ecclesia domestica. Peserta diajak menyadari bahwa keluarga bukan sekadar tempat tinggal bersama, melainkan ruang pertama di mana iman diperkenalkan, dipelajari, dan dihidupi. Kehadiran Kristus diwujudkan melalui hal-hal sederhana: doa bersama, percakapan yang penuh perhatian, saling mengampuni, makan bersama tanpa gangguan gawai, serta keterlibatan seluruh anggota keluarga dalam kehidupan Gereja. Dengan pendekatan yang dialogis dan reflektif, peserta diajak melihat bahwa tantangan era digital tidak hanya menghadirkan risiko, tetapi juga membuka peluang untuk membangun keluarga yang semakin dewasa dalam iman apabila teknologi digunakan secara bijaksana.


Rekoleksi tersebut menjadi pengingat bahwa Gereja yang kuat selalu berawal dari keluarga-keluarga yang bertumbuh dalam kasih. Ketika keluarga menjadi tempat pertama pewarisan iman, lingkungan menjadi ruang persekutuan yang saling menguatkan, dan paroki menjadi rumah bersama bagi seluruh umat. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan refleksi teologis yang dekat dengan pengalaman hidup umat. Sebab, teologi menemukan maknanya yang paling nyata ketika membantu keluarga-keluarga Kristiani bertumbuh sebagai ecclesia domestica yang menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.

  Kembali
Lihat Arsip