AKTUALITA
“Katekis Baru, Semangat Baru”
Dosen Fakultas Teologi USD Berbagi Ilmu tentang Moral dan Ajaran Sosial Gereja di Paroki Bintaran
Sebanyak 43 umat Paroki Santo Yusup Bintaran Yogyakarta mengikuti sesi Kursus Katekis pada Kamis malam, 25 Juni 2026. Malam itu, mereka tidak hanya mendengarkan ceramah — mereka diajak bertanya tentang diri sendiri: siapa yang membentuk cara kita memahami mana yang benar dan mana yang salah? Pertanyaan sederhana itu menjadi pintu masuk ke sebuah perjalanan intelektual dan spiritual yang berlangsung selama tiga jam.
Sesi malam itu merupakan bagian dari Kursus Katekis 2026 yang diselenggarakan oleh Gereja Santo Yusup Bintaran dengan tema “Katekis Baru, Semangat Baru, Gereja Bahagia.” Kursus yang berlangsung setiap Kamis sejak April hingga Juli ini menggandeng berbagai narasumber dari dalam dan luar paroki. Pada sesi 25 Juni, Paroki Bintaran mengundang Dr.theol. Dionius Bismoko Mahamboro, Pr. – akrab disapa Romo Bismoko – dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, untuk menyampaikan materi bertema Moral dan Ajaran Sosial Gereja.

Kegiatan ini sekaligus merupakan bentuk Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Mandiri dalam kerangka Tridharma Perguruan Tinggi. Dari 48 peserta yang terdaftar, 43 orang hadir pada malam itu — terdiri dari Prodiakon, Umat Lingkungan, Ketua Lingkungan, dan Katekis. Sebagian besar (88%) baru pertama kali mengikuti kursus katekis, dengan latar belakang pendidikan sarjana hingga pasca sarjana dan profesi beragam: karyawan, wiraswasta, guru, ibu rumah tangga, hingga pensiunan.
Dari Pengalaman Menuju Kerangka Teologis
Alih-alih langsung masuk ke konsep teologis, Romo Bismoko membuka sesi dengan membagi peserta ke dalam delapan kelompok kecil untuk mendiskusikan satu pertanyaan: siapa yang paling membentuk pemahaman mereka tentang baik dan buruk, dan apakah mereka sendiri sudah membentuk orang lain dengan cara yang sama? Diskusi berlangsung hidup — semua peserta tampak aktif berbicara.
Dari pengalaman itu, Romo Bismoko memperkenalkan kerangka teologi moral yang dikembangkan oleh Paul Wadell dalam karyanya Happiness and the Christian Moral Life: bahwa manusia diciptakan sebagai gambar Allah (imago Dei) yang merindukan kebaikan dan kepenuhan hidup — namun sekaligus harus berjuang melawan kecenderungan untuk menempatkan diri sendiri di pusat. Tegangan inilah yang menjadi inti dari seluruh perjalanan moral manusia.
Peserta tidak sekadar menyimak. Seorang peserta yang berprofesi sebagai wiraswasta, misalnya, mengajukan pertanyaan konkret tentang persoalan moral seputar hutang-piutang dalam dunia usaha — sebuah tanda bahwa materi yang disampaikan berhasil menyentuh kehidupan nyata, bukan sekadar teori di ruang kelas.
Bank Sampah sebagai Cermin Ajaran Sosial Gereja
Sesi kedua mengajak peserta melihat lebih jauh: moralitas tidak berhenti pada ranah personal, melainkan harus terwujud dalam tanggung jawab sosial. Di sinilah Ajaran Sosial Gereja (ASG) masuk — dan Romo Bismoko memilih pendekatan yang tak lazim: bukan dimulai dari dokumen atau prinsip, melainkan dari sesuatu yang sudah dikenal peserta.
Gerakan Kolekte Sampah Paroki Bintaran — yang diluncurkan pada 26 Maret 2023 dan mengelola sampah anorganik bersama mitra perusahaan pengolah sampah Rapel — dijadikan kasus utama untuk membedah empat prinsip pokok ASG: martabat manusia, kesejahteraan umum (bonum commune), solidaritas, dan subsidiaritas. Lewat empat pertanyaan pemantik, peserta diajak menemukan sendiri bagaimana prinsip-prinsip itu sudah hidup — atau perlu diperkuat — dalam gerakan yang mereka kenal dari lingkungan sendiri.
Sesi ini juga menjadi jembatan menuju tradisi ASG yang lebih luas. Gerakan Kolekte Sampah di Bintaran berakar pada semangat Laudato Si (Paus Fransiskus, 2015), ensiklik yang mengajak seluruh umat merawat bumi sebagai rumah bersama. Dan percakapan itu kini terus berlanjut: pada Mei 2026, Paus Leo XIV menerbitkan ensiklik perdananya, Magnifica Humanitas, yang menempatkan diri dalam garis panjang tradisi ASG yang dimulai Paus Leo XIII lebih dari satu abad lalu — kini merespons tantangan baru: kecerdasan buatan dan martabat manusia di era digital.
Quiz, Antusiasme, dan Satu Pertanyaan yang Dibawa Pulang
Di penghujung malam, suasana justru semakin hidup. Panitia mengadakan quiz berhadiah untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi yang sudah disampaikan. Ketika pertanyaan dilempar, banyak tangan yang langsung terangkat. Peserta yang ditunjuk menjawab dengan benar — sebuah tanda bahwa tiga jam bersama bukan sekadar mendengarkan, melainkansungguh-sungguh belajar.
Romo Bismoko menutup sesi dengan satu pertanyaan yang dibawa pulang: “Sebagai katekis, kebiasaan apa yang ingin Anda wariskan kepada komunitas yang Anda layani?” Pertanyaan itu bukan retorika — ia adalah undangan untuk merefleksikan bahwa moralitas dan tanggung jawab sosial bukan teori yang selesai di ruang kursus, melainkan perjalanan yang terus berlangsung di tengah umat.
Kembali