FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

DISKUSI KESEJARAHAN PRODI SEJARAH USD PEMAKNAAN MASA LALU OLEH SEJARAWAN DAN SENIMAN

Pada tanggal 6 November 2024, Program Studi Sejarah USD menggelar Diskusi Kesejarahan dengan topik “Menghadirkan Masa Lalu: Dinamika Sejarah dan Seni dalam Penciptaan Makna Masa Lampau”. Acara yang dilaksanakan di Ruang Kadarman, USD, dan dihadiri sekitar 50 peserta ini menghadirkan F.X. Harsono sebagai narasumber dengan Abednego Andhana Prakosajaya, S. Hum., S. Ark., M.A. sebagai moderator. Kegiatan diskusi ini diharapkan tidak hanya membuka wawasan baru bagi para mahasiswa peserta terkait metode sejarah dalam dunia seni, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya menggelorakan semangat kerja sama lintas disiplin ilmu.

Setelah acara dibuka oleh Drs. Silverio Raden Lilik Aji Sampurno, M.Hum. selaku Kaprodi Sejarah, USD, F.X. Harsono mulai memaparkan ragam pengalaman pribadinya sebagai seorang perupa kontemporer yang menggunakan arsip dan riset sejarah sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan karya, khususnya tentang permasalahan identitas, kebudayaan, dan diskriminasi terhadap Tionghoa di Indonesia. Harsono menekankan pentingnya peran sejarah sebagai landasan penciptaan karya yang memberikan kesadaran tentang konteks yang meliputi terjadinya peristiwa pada masa lalu. Beberapa karya turut ditampilkan dalam penjelasannya sebagai sarana penegasan akan pentingnya riset sejarah, tidak terkecuali bagi para seniman. Sebagai contoh, dalam karyanya yang berjudul Writing in the Rain, ia berupaya menyajikan kembali narasi identitas Tionghoa di Indonesia yang mengalami diskriminasi secara terstruktur dan terwariskan.



Pemaparan materi oleh F.X. Harsono berhasil memantik munculnya sejumlah pertanyaan dari para peserta, mulai dari segi metode penciptaan karya hingga berkaitan dengan keberanian dalam mereintepretasi sejarah “kelam” di Indonesia pada masa lalu, khususnya mengenai eksistensi komunitas Tionghoa. Salah satu pertanyaan yang disampaikan oleh peserta kepada Harsono adalah berkenaan dengan kendala-kendala yang acap kali ditemui ketika melakukan riset historis. Rupanya, Harsono juga mengalami kendala serupa seperti yang dialami oleh mayoritas sejarawan pada umumnya, yaitu sulitnya mencari narasumber sezaman yang bersedia mengisahkan peristiwa-peristiwa sensitif pada masa lampau. Meskipun demikian, kendala tersebut tidak lantas menjadikannya berkecil hati. Justru sebaliknya, ia semakin bersemangat untuk melakukan riset dan berhasil dipertemukan dengan para penyintas secara langsung di luar perkiraannya. Hasil dari diskusi ini adalah mengenai pentingnya riset historis, baik bagi sejarawan maupun seniman guna memaknai masa lampau. Bahwa peristiwa masa lalu tidak melulu disajikan melalui historiografi semata, tetapi juga dapat diintepretasikan melalui karya seni dengan tetap taat pada metode penelitian ilmiah sejarah. (gau)

Kembali