FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

Rangkaian Diskusi Kesejarahan 2023

Tiga kali diskusi kesejarahan yang dilakukan Prodi Sejarah pada tahun 2023 ini memantik diskusi mengenai sejarah lingkungan, sejarah seni, dan sejarah pemikiran. Selain itu, diskusi-diskusi ini melibatkan berbagai pihak, yaitu lembaga di luar Universitas Sanata Dharma dan alumni.

Sidik Kertapati, Tokoh yang Dipinggirkan

Diskusi pertama dilakukan pada Rabu, 25 Oktober 2023 di Ruang Kadarman dalam bentuk bedah buku, yaitu “Bedah Buku Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 Karya Sidik Kertapati”. Acara diskusi ini diselenggarakan Prodi Sejarah bekerjasama dengan Lembaga Studi Realino/LSR di Yogyakarta yang selama ini berpengalaman melakukan penelitian mengenai isu-isu multikulturalisme.

Buku Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan karya Sidik Kertapati. Tulisan Sidik Kertapati ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1957 (Penerbit Jajasan Pembaruan), lalu diterbitkan ulang tahun 2000 oleh Pustaka Pena. Pada bulan Agustus 2023 lalu, penerbit Ultimus menerbitkan kembali. Arief Djati, seorang peneliti sejarah menyunting dan memberi kata pengantar pada buku terbitan Ultimus tersebut. Pada diskusi kesejarahan kali ini, Arief Djati menjadi pemantik diskusi bersama F. Galih Adi Utama, S.S., M.A. dosen Prodi Sejarah, USD, dan sebagai moderator adalah Ghina Nazia Salsabila, mahasiswa Prodi Sejarah, USD. 

Nama Sidik Kertapati adalah salah satu nama yang jarang disebut dalam penulisan sejarah Indonesia. Namanya hampir dilupakan sebagai pelaku sejarah peristiwa sekitar proklamasi. Ia lahir 19 April 1920. Sebagai pemuda ia bergabung dalam perjuangan pemuda seperti dalam Serikat Buruh Bengkel, Gerindo, dan Gerindom. Ia juga aktif dalam Angkatan Pemuda Indonesia/API di Menteng 31 sekitar proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dalam masa revolusi ia bergabung Laskar Rakyat. Ia terus aktif terlibat dalam gerak Republik Indonesia hingga pasca peristiwa 1965 ia yang bergabung dalam Barisan Tani Indonesia ini harus meninggalkan Indonesia. Ia ke Belanda menjadi eksil hingga kembali tahun 2002. Ia pun meninggalkan istri dan anak-anaknya. Istrinya, Siti Rukiyah, juga salah satu tokoh yang aktif melakukan pergerakan.

Salah satu hasil diskusi ini adalah pentingnya membaca ulang narasi-narasi besar yang biasa kita terima. Narasi-narasi umum kadang menghapus nama-nama dan peristiwa tertentu. Tulisan dalam buku Sidik Kertapati ini juga menyebutkan beberapa nama yang jarang disebutkan dalam narasi sekitar proklamasi kemerdekaan. Demikian juga nama Sidik Kertapati sendiri sering tidak disebutkan lagi.


Nginang Karo Ngilo: Diskografi Manthous

Diskusi yang kedua merupakan diskusi mengenai film dokumenter yang dibuat Aan Ratmanto, M.A. dosen UIN Raden Mas Said, Surakarta. Aji Cahyo Baskoro, M.A. dosen Prodi Sejarah, USD juga turut terlibat dalam tim produksi film ini. Bagi masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta, lagu “Nginang Karo Ngilo” pada tahun 1980an sampai 2000an sangat terkenal, yaitu lagu campur sari yang dipopulerkan oleh Manthous, seorang penyanyi campur sari dari Gunung Kidul.

Dalam diskusi kali ini Aan Ratmanto dan Aji Cahyo Baskoro menceritakan kisah kreatif pembuatan film dan ketokohan Manthous dalam mengembangkan lagu genre campur sari. Film ini merekam perjalanan Manthous sebagai musisi yang berpindah-pindah di Gunungkidul, Semarang dan Jakarta. Diskusi ini diadakan di ruang drama, Gedung Sastra, Fakultas Sastra, Rabu, 15 November 2023. Najib Nur Rosyid, mahasiswa Prodi Sejarah memandu diskusi ini.

Manthous memulai karya-karyanya sebagai pemusik keroncong di Jakarta hingga akhirnya dia pulang kampung mengembangkan lagu campur sari. Manthous mengajak keluarga besar dan orang-orang terdekatnya. Dari rekamannya ia terus berkreasi mengembangkan musik campur sari hingga membuat lagu campur sari begitu populer. Ia menciptakan lagu-lagu yang terkenal, misalnya Ngidamsari, Keroncong Tani, Lamis, Laring Gunung, Gethuk, Rondho Kempling, Sakit Rindu dll.  Suasana ceria dan energik umumnya sangat terasa dalam lagu campur sari.

Dokumen-dokumen ditampilkan dalam film Nginang Karo Ngilo ini. Dalam film ini juga dilakukan wawancara terhadap saksi-saksi yang masih hidup yaitu keluarga Manthous dan tim pemusik Manthous. Film dokumenter dapat menjadi salah satu bentuk usaha mengisahkan kembali peristiwa sejarah secara kreatif.

Pendampingan Masyarakat Pinggiran Hutan



Diskusi yang ketiga dilakukan pada 6 Desember 2023 di ruang kelas Prodi Sejarah. Diskusi kali ini juga menarik karena menghadirkan dua alumni yang telah berkiprah di tengah masyarakat. Septian Paterianus dan Laurentius Krisna Yullanta menjadi pemantik diskusi. Keduanya merupakan alumni Prodi Sejarah. Septian Paterianus sekarang menjadi Ketua STKIP Melawi, Kalimantan Barat, sementara Laurentius Krisna merupakan koordinator program Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA). Diskusi ini dipandu M. Agim Mauladhan, mahasiswa Prodi Sejarah.

Topik yang dibahas dalam diskusi ini menjadi sebuah bentuk sharing alumni, yaitu alumni menceritakan karya-karya di tengah masyarakat. Kedua alumni ini ternyata memiliki kesamaan yaitu melakukan pendampingan bagi masyarakat yang ada di pinggiran hutan. Keduanya sepakat bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sekitarnya, terlebih hutan. Perubahan, lebih-lebih kerusakan hutan bukan hanya merusak hutan itu sendiri tetapi juga masyarakat di sekitar hutan.

Masyakat di sekitar hutan biasanya telah memiliki cara hidup yang bersahabat dengan hutan. Masyarakat adat tidak dengan mudah merusak hutan, tetapi menjaga keseimbangan hutan. Begitu juga masyarakat memiliki tradisi untuk merawat hutan.

Kembali