Pacitan, 4 s.d 6 Desember 2025, sebanyak 14 staf Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi (BAPSI) mengadakan Refleksi Karya yang merupakan program tahunan Universitas Sanata Dharma. Didampingi oleh fasilitator Christiono Eka Putra, S.T dan Bartolomeus Sigit Yogyantoro S.T. Refleksi Karya tahun ini mengambil tema adalah “Sanyata ing Dharma: Asas Perluasan, Perjumpaan, dan Penciptaan”.
Tema Refleksi karya ini dimaknai sebagai perjalanan Sanata Dharma mencari terang dan dituntun oleh terang. Disebut terang kalau perjalanan itu memuji, menghormati, dan mengabdi Tuhan. Dalam kegiatan Refleksi karya ini dibagi dalam 3 sesi yaitu:
- Sesi 1 Sanyata ing Dharma sebagai Memuji, Menghormati, Dan Mengabdi. Dalam sesi ini peserta diminta untuk berdiskusi tentang Universitas dan unit-unit mengalami sanyata ing dharma sebagai perjalanan institusi mencari terang dan dituntun oleh terang. Bagaimana unit BAPSI atau unit-unit lain di Universitas Sanata Dharma dalam memuji dan mengalami perluasan, menghormati: memfasilitasi perjumpaan yang memberdayakan, serta mengabdi: kreatif bergerak, mengatur kecepatan, dan memperhitungkan waktu.
- Sesi 2 Sanyata ing Dharma sebagai Spiritualitas Mata Terbuka. Bagaimana melalui pengalaman perluasan, perjumpaan, dan penciptaan di BAPSI, belajar mengenai “spiritualitas mata terbuka” Pater Pedro Arrupe, atau dilatih membiasakan diri “membuka mata” dan “menutup mata” seperti Pater Driyarkara, dalam mencerna pengalaman hidup harian dan dalam mengembagkan pujian, hormat, dan pengabdian di Universitas Sanata Dharma.
- Sesi 3 Sanyata ing Dharma sebagai Perjalanan Harapan. Di tempat dan ruang yang memungkinkan aktivasi variabel gerakan, kecepatan, dan waktu tersebut, sangat dimungkinkan terjadi alur perjalanan yang "keliru" (lignes d'erre) atau tak terduga (unforeseeable). Dalam kesadaran akan hal itu, perjalanan yang berani (bold) dengan berprinsip “Sanyata ing Dharma” memang akan memasukkan kita pada sekaligus nuansa dan ambiguitas (shadows and ambiguities). Sanata Dharma berjalan dalam “terang”, tetapi juga mengakui “samar” yang melingkunginya. Bagaimanakah institusi akan mengintegrasikan adagium seperti ini dalam tradisi intelektual, layanan, dan pengembangan ke depan.
Kegiatan diselingi dengan fun games yang meriah, sebagai simbol shadows and ambiguities dilingkungan yang sering dihadapi dalam pengambilan keputusan. Refleksi ditutup dengan satu kata "KONSISTEN."